12 Februari 2015

IBU RUMAH TANGGA, kenapa tidak?!

Assalamualaikum kamu…

Alhamdulillah, lagi semangat-semangatnya untuk nulis dan langsung posting di blog saya :D semoga semangat ini tidak padam yah, yuuuukkkk :D

Mau bercerita sedikit tentang saya sekarang pasca melahirkan aja, kesimpulannyalah yah, soalnya tulisan terakhir saya tentang proses kelahiran zaf yang sangat panjang dan sepertinya ada sedikit yang terlupa :D

Gini, Saya seorang Ibu Rumah Tangga yang memutuskan tidak bekerja, keputusan ini sebenanya saya ambil tanpa fikir panjang, yah, saya takut sakit hati L saya dari SMP sudah diajarkan organisasi sama orangtua saya dan waktu bukan hanya terbuang di sekolah dan rumah tetapi ada waktu berkumpul dengan teman – teman salah satunya IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH, berlanjut ke SMA sampai Kuliah. Saya tipikal orang yang tidak bisa diam, banyak organisasi yang saya ambil untuk mengisi waktu saya, berteman dengan banyak orang, dan saya suka itu. selama sehari penuh kadang pulang kerumah cuman mandi + tidur :D klimaks pada waktu saya kerja kadang pulang jam 12an malam dikarenakan tempat kerja saya ganda (setelah sore saya lanjut ambil job yang lain).
Nah jika saya memutuskan tidak bekerja dengan pikiran yang panjang, sampai sekarang saya ogah meninggalkan rutinitas saya itu. Tetapi kecintaan pada keluarga saya lebih utama dibanding semua, dilema saya alami, karena suami kerja dengan wilayah yang tidak menetap, hari ini saya di batam entah besok atau kapan hari saya akan di wilayah mana lagi, ditambah kami Alhamdulillah sudah diberikan rejeki berupa anak yang sholeh Aufar Zafran Paingngi.

LDR, no!!!!! saya bisa bekerja sambil mengurus zafran di makassar, dan ayah kerja diwilayahnya!! Maaf saya dan suami gak bisa!! Saya sudah merasakan betapa tersiksanya saya LDR, ketika sudah menikah dan sementara hamil, maaf saya sampai sekarang tidak menganut paham itu, saya tidak kuat mengurus semuanya tanpa suami. Entah nanti yang jelas saat ini saya belum bisa. 

Insha Allah ada waktu yang bisa saya gunakan untuk kerja dari rumah, pernah mencoba bisnis online tapi stop ditengah jalan! Saya belum bisa mengatur waktunya. Saya tidak mempunyai Asisten Rumah Tangga. Jadi uang yang saya dapatkan hanya dari gaji suami. Semua dirumah saya yang kerjakan termasuk mengurus saya sendiri dan dua lelaki saya dirumah. Pekerjaan hari –hari saya diantaranya mulai dari menyapu,  mencuci baju, menyetrika pakaian, memasak, membersihkan halaman, mengepel, memotong rumput hingga memperbaiki mainannya zaf yang rusak plus bersihin kamar mandi. Dan saya sangat menikmati, belum waktunya saya memiliki ART, Insya Allah saya masih sanggup dan diberikan kesehatan. Aamiin.

Ketika mendengar semua yang saya lakukan itu, salah satu teman saya pun berkomentar : Beghhhh, buset un! Udah mirip pembantu aja kamu!!!. Saya memilih tidak berkomentar panjang lembar hanya membalas dengan emoticon tertawa terpingkal-pingkal, ketimbang omentar panjang lebar ditambah dengan ngambek dan memecah persatuan dan kesatuan pertemanan. Mau gimana lagi memang benar adanya saya melakukan itu semua.

Dulu memang selalu sensitif (tersinggung) jika pekerjaan rumah tangga disamakan dengan pekerjaan ART. Saya malah lebih sering (lebih tepatnya berusaha) menjelaskan pada orang-orang sekeliling ketika mereka menanyakan mengapa saya berhenti bekerja di kantor. Diantara semua jawaban itu, saya selalu membawa-bawa pekerjaan suami yang selalu berpindah wilayah, anak yang masih kecil, dan bla-bla lainnya. Lelah cari pembenaran ketimbang mengakui pekerjaan saya adalah Ibu Rumah Tangga yang belum memiliki penghasilan sendiri dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga seorang diri.

Pada saat itu saya merasa pekertaan Ibu rumah tangga itu tidak keren. Hahahaha. Tapi Iya sih memang tidak keren tidak terlihat necis dan kurang cantik. Pakaiannya yah gitu-gitu saja, tidak ada penghasilan, tidak ada pakaian kantor, tak ada sepatu dan tas yang khusu di pakai kekantor  dan jarang tampil cantik *tapi untuk suami sering doung :p. karena hal – hal inilah, saya sempat kena hasutan untuk kembali kerja lagi.

Lambat laun zafran tumbuh dengan riangnya, saya mulai enjoy dengan semua pekerjaan Rumah Tangga, saking enjoynya saya merasa tersinggung jika ada orang membantu pekerjaan saya, baik banyak ataupun sedikit. Sembari menjemur pakaian, zafran saya bawa dan dia sambil bermain, saya baru bisa mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika dan semua pekerjaan rumah saat zaf mulai tertidur dan berakhir saat dia terbangun. Pada saat dia terbangun pekerjaan semua stop. Fokus pada zaf, bermain + memberikan makanan atau apapun semua berkaitan dengan zafran.

Keinginan untuk bekerja dikantorpun redup. Saya tidak mengambil pusing saat ada beberapa teman lagi, yang menyayangkan keputusan saya untuk tetap berada di rumah. Seringnya saya beralasan “ Duh, Kalau saya kerja lagi, sebentar pas anak dan suami saya sakit terus saya masih di kantor, kan gak bisa seenaknya saya pulang tanpa membereskan pekerjaan. Iya kalau kerjanya dekat sini, kalau di MAKASSAR , yah bubarlah saya. GAK APA DEH, SAYA DIRUMAH AJA DULU, MASIH SANTAI KOK.” Kalau sudah gitu, semua teman saya mingkem.

Saya tahu betapa terbatasnya jadi Ibu rumah tangga tanpa Asisten Rumah Tangga dan belum memiliki penghasilan setiap bulan. Namun saya tidak kecil hati. Nggak punya penghasilan sendiri, ya saya berusaha hemat supaya akhir pekan kami sekeluarga bisa berwisata atau main keluar rumah. Jika orang-orang sekitar tidak melihat kasil karya kita, yah cukup kita dan orang – orang rumah tahu bahwa saya berhasil membersihkan halaman atau selalu menyiapkan makanan sehat dan enak buat suami dan anak. Bahkan kitapun bisa tersenyum saat melihat suami sukses dengan pekerjaannya dan sikecilpun tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Apalagi saat melihat zafran sedang melihat saya bubunnya sambil senyum dan tertawa. AHHHHH INDAH BUKAN!! :D

Sekarang Jalan saya masih sangat panjang sebagai Ibu Rumah Tangga. Masih panjang perjaanan saya dan keluarga satu hal yang pasti, saya belajar BANGGA dengan pekerjaan yang saya pilih. Menjadi Ibu yang baik dan benar, menjadi Istri yang baik dan benar serta menjadi invidu yang baik dan benar, pasti memberika efek yang baik dan benar pula untuk kita. Saya berkeyakinan jika kita melakukan hal yang baik dan benar pasti aakan berakhir dengan kebaikan. 

Cuman satu doaku Yaa Allah, Berikan kami sekeluarga kesabaran yang tiada batasnya. Aamiin.

Istri dan Bubun yang terus belajar menjadi baik dan benar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar