19 September 2015

Antara Bapak, Mama, Kami, dan Alzheimer

Assalamu Alaikum :)



Entah saya mulai dari mana untuk nulis ini, sepertinya begitu banyak yang saya mau curahkan tapi apa daya tangan yang tidak tau mulai dari huruf mana saya menulis :'(

Cerita dimulai dengan Ibu tercinta saya yang biasa saya panggil dengan sebutan mama.
Mama tipikal orang yang sangat keras, anaknya telat sedikit pulang kerumah ditelpon kesana-kemari, sampai dirumah diomelin lagi. Intinya mama sosok yang keras, tegas dan detail. Saya gak bisa apapun menyembunyikan apapun itu, pasti ketahuan. Itu makanya kalau mau curhat tentang hal pribadi atau cerita ngalur ngidul aku lebih memilih ke bapak sih ketimbang mama. Termasuk salah satunya kewajiban berjilbab seorang wanita. kalau bukan mama yang memaksakan saya mulai 6 SD sudah membiasakan pakai pakaian panjang dan memakai jilbab, saya gak tau sekarang. Oh ia mama saya dari dulu gemar menjahit, alhasil rata-rata baju saya dan kakak saya adalah hasil jahitan dari wanita hebat ini. Mama adalah orang pertama yang selalu saya andalkan dalam hal apapun.

Bapak, Sosok pria pertama yang saya andalkan, yang begitu saya banggakan, kesederhanaannya, sikap mengayominya, sikap yang senang bercanda dengan anaknya, yang membuat saya rileks jika bercerita apapun kepada beliau. Beliau sepertinya tau gimana caranya menyingkirkan batas kapan beliau bersikap seorang bapak, suami terhadap mama, dan teman atau sahabat bagi anaknya. Dan yang paling saya ingat, Mama dan Bapak gak pernah sekalipun saya lihat bertengkar didepan kami. Tapi setelah muncul gejala-gejala alzheimer itu, mamak yang setiap hari mengalami emosi yang tidak stabil membuat kadang pertengkaran kecil saya lihat. Malah kadang besar, tapi selalu bapak yang mengalah :'(

Yang paling saya ingat ketika Kakak ketiga saya, Kak Iwan menikah kalau tidak salah saya masih duduk di bangku SMA, disitu saya merasakan mama yang sangat aneh, selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama berulang kali dengan jeda waktu yang tidak lama, mama yang begitu emosional, mama yang begitu teledor, mama yang begitu mulai menjengkelkan. Seakan-akan saya mulai malas untuk bicara dengan mama karena menurutku itu sia-sia, pikirku 'toh nanti mama lupa, toh nanti mama tanya lagi- tanya- dan tanya padahal tadi kita sudah bilang ke beliau" :'( Astagfirullah

Pada saat itu saya gak menerima kalau mama sudah mulai pikun, tapi pikun yang tidak masuk akal menurutku. pikirku masih banyak kok orang yang lebih tua dari mama tidak mengalami kepikunan yang amat berlebih sekali. Kadang kakak saya menghibur berangkali ini ujian yang diberikan sama kita termasuk sama mama, orang diberikan penyakit fisik tapi mama bukan itu yang diberikan oleh Allah malah diberikan penyakit kepikunan. Tapi betul sih, Diusia mama yang menjelang 72 tahun, tak ada orang sangka kalau beliau sudah 72 tahun. Jikaulau saya mengajaknya jalan dan ketemu teman-teman saya pasti mereka tidak sangka dengan usia mama saya. berangkali juga mama memang masalah makeup ataupun yang dia pakai dimuka dan badannya gak ada yang aneh-aneh atau berlebih, mama yang sederhana membuat beliau terlihat masih awet muda. Dan Alzheimer yang membuat dia terlihat mulai keriput dan tak terurus. :(

Dan sayapun memakluminya akhirnya, toh kadang saya bertemu sama mama jarang, kalau ketemu palingan bicara seadanya, pagi kuliah kadang gak nginep dirumah, datang dirumah hanya ganti baju, makan, tidur sebentar, lanjut kuliah lagi. kerja juga, ngambil side job + lanjut kuliah membuat saya selalu pulang kadang jam 12 malam atau kalau belum selesai kejaan kadang pulang jam 1an, pagi saya pergi lagi, sabtu -minggu pun sangat jarang di rumah. Cerita tentang mama hanya saya dapat dari bapak, bapak yang selalu mengantar saya kemana-mana membuat waktu lebih lama dijalan membuat kita berasa 'me time' dengan bapak dengan cerita kondisi mama, kondisi kerjaan saya atau cerita-cerita yang lainnya, dan kakak-kakak saya.

Kadang jika mama bersikap seperti demikian, saya lebih baik menghindar, lebih banyak dikamar nyelesain tugas kuliah atau kerjaan kantor yang biasa aku bawa kerumah atau hanya sekedar nonton dvd. dari pada dongkol dan akhirnya saya bersikap ketus/membentak sama mama mending demikian masuk kamar. karena gak keitung sikap ketus saya ke mama akibat mama yang mulai menjengkelkan pada saat itu. Astagfirullah maafkan ma' :'(

Klimaks yang saya rasa kehilangan dengan sosok seorang ibu itu saat saya menikah, disaat saya membutuhkan ketenangan, membutuhkan wejangan, membutuhkan masukan, atau perhatian lain yang biasanya pengantin perempuan dapatkan dari ibunya, itu saya tidak ada. Mama sibuk dengan dunianya sendiri, sibuk dengan kesibukannya sendiri tapi kita juga gak tau mama sibuk apa, dan kadang menyendiri. Untungnya ada bapak dan kakak perempuan saya satu-satunya yang tau kegundahan bathinku saat itu. 

Entah malam itu pengen sekali mendekati mama bercerita tentang panjang lebar atau pesan-pesan beliau sebelum saya menjadi istri orang, tapi mama selalu datar bersikap kepada saya. Entah perasaan saya yang berlebihan atau mama sebenarnya merasakan hal yang sama tapi tidak tau gimana caranya menyampaikan apapun kepada saya. yah ketika saya masuk didunia perkantoran memang hubungan saya dengan mama mulai ada semacam jarak, karena yah itu saya menjaga emosi dan bicara saya kepada mama takut kalau saya emosi perkatan yang keras yang terlontar sama beliau. dan bapak tau itu, untungnya ada bapak tempat meluapkan emosi jika capek diurusan kantor + kuliah, selesai cerita itu aduhhh perasaan itu kembali tenang dengan sendirinya, dan itu sudah menjadi kebiasaan memang saat dulu mama sudah tidak asik diajak bercengkrama :(

Saat saya mulai resign dari kantor dan ikut suami dinas ke batam, mulailah cerita yang detail tentang mama saya dapat dari bapak atau kakak, berangkali waktu saya sudah banyak buat mereka. biarpun lewat telepon kami bercerita tapi itu sangat terasa dekat dengan mereka. dekat dengan perkembangan mama selama beberapa tahun terakhir ini, membuat saya hanya bisa menangis :( Tiba saat saya pulang ke makassar menunggu lahiran dan suami masih tugas di batam, akhirnya saya tinggal dirumah 24 jam tanpa aktivitas selain mengurus kehamilan dan kedua orangtua saya. Saya hanya tinggal seminggu dirumah selebihnya sampai saya melahirkan dan kembali ke batam, saya tinggal di rumah kakak saya. Kenapa? Dirumah bertiga sama mama dengan saya yang masih baru melahirkan sangat membutuhkan bantuan orang-orang sekitar, terutama mama. bapak yang kala itu memang belum bisa diandalkan beliau hanya memberikan semangat dan masukan. tapi mama tidak bersikap saya ada dirumah dengan anak kecil, dia selalu lupa ada saya dan zaf. dia ingat jika dia melihat saya. dan jika zaf menangis, mama malah marahi saya dan kadang kembali sibuk dengan kesibukan yang entah kesibukan apa yang dia buat. Tidak lama itu bapak selalu menyarankan untuk tinggal kembali dirumah kakak saya. 

Kakak saya, kakak uphie memang sudah menjadi soulmate saya dari dulu, dia bisa berperan sebagai ibu, sebagai kakak, teman, atau sahabat, Alhamdulillah saya puji syukur kepada Allah SWT dan Orangtua saya menghadirkn seorang kakak perempuan yang beda 15 tahun dengan saya, kakak yang selalu ada disamping saya dalam keadaan suka maupun duka, kakak yang selalu jadi figur, kakak yang selalu menyediakan telingan dan bahunya untuk saya selalu berkeluh kesah. selama saya menunggu lahiran sampai kehadiran zaf di dunia ini, untungnya ada kak upik di samping saya, saya tidak tau gimana kalau tak ada dia disini.

Karena saya tidak bisa kembali kerumah dengan kondisi seperti ini, maka mama yang nginap di rumah kakak saya, tapi apa yang terjadi sikap mama yang tidak tenang dimanapun selain dirumahnya, selalu ingin pulang padahal saya membutuhkan dia. Selalu mengingat bapak, rumahnya, masak apa, atau apalah yang berhungan dengan rumahnya, seakan-akan beliau hanya menganggap rumahnya di Lompobattang adalah rumahnya sendiri, untuk yang lain bukan, setiap malam gelisah ingin pulang, mama saat itu tidak bisa diajak bicara baik-baik. kesana kemari, tasnya tidak dia lepas seakan-akan kita mengurungnya melarang dia kemana-mana. Bapak yang katanya meninggalkan dia. dan banyak cerita halusinasi dia yang dia lontarkan, jika kita menceritakan/memberitahu dengan perkataan yang halus maupun ngebentak tetap mama pada pendiriannya, Ingin pulang. Memang saat ada gejala pikun itu, semua keungan keluarga semua bapak yang kendalikan, bahkan ke pasar pun yang dulunya mama, bapak sekarang yang kesana -kemari membeli kebutuhan mama. Mama lebih tenang dirumah. karena waktu awal-awal mama menderita dimensi, kita sampai stres karena mama hilang di pasar :((((

Beberapa bulan terakhir ini, mama sering berhalusinasi membuat cerita, sering ingin keluar malam mencari apapun yang dia kerjakan di siang hari, padahal yang dia cari adalah kebiasaan dia 20 tahun yang lalu, karena siang hari dia hanya di rumah, karena selalu ingin keluar mencari apapun diluar membuat mengganggu tetangga, seakan-akan tetangga pikirnya kami anak-anaknya tidak memperdulikannya :( dan klimaksnya sekarang mama sudah tak kenal bapak, mama selalu memanggil bapak dengan sebutan papa, sebutan untuk bapaknya mama yang sudah meninggal, sayapun jika bapak tidak memasang foto pernikahan saya di ruang keluarga, mama lupa jikalau saya sudah menikah.

Kita dari dulu udah curiga mama masuk dalam kategori Orang-orang Dimensi atau Alzheimer tapi karena mama tidak sangat mau ingin diperiksa kedokter syaraf, karena selalu ia sebut dengan dokter untuk orang gila dan berbagai alasan lainnya. makanya sampai sekarang kita bingung bagaimana mengatasinya. Untungnya sekali lagi mama memiliki suami sekaligus ayah dari anak-anaknya yaitu bapak yang sangat super sabar, sampai kesabarannya saya gak bisa pikir secara logika, orang normal sekalipun dengan pelatihan merawat orang yang berdimensi akan kewalahan, namanya manusia yah. tapi beda dengan bapak, biarpun sekali bapak menggertak dengan suara yang keras tapi itu agar membuat mama kaget dan kembali ke pikiran awalnya. dan memang berhasil tapi bapak dan kami tidak tau sikap seperti itu apakah memang cara yang benar untuk ditujukan orang yang berdimensi.

Bapak jika curhat sama kakak atau sama saya, kami hanya bilang, yang sabar pak!! entah itu hanya penghibur atau gimana, tapi kita saja sebagai anak tidak ada apa-apanya kesabaran kami ketimbaang dengan kesabaran bapak menemani istrinya, menjaga istrinya, merawat istrinya, berkorban waktu dan perasaan. Satu pintaku Ya Allah berilah kesehatan dan kesabaran yang tiada batasnya untuk bapak saya dan berikan kesembuhan mama saya :'(

Dan pada waktu saya balik ke batam, Mama karena memang ingin sekali keluar dari rumah kakak saya, kebetulan bapak tidak ada, ada cela kita lengah, mama langsung keluar, dan hilang entah dimana, dicari kemana-mana tidak ada, sampai kak upik menyuruh ojek-ojek langganannya untuk mencari mama dimanapun dan akhirnya salah satu ojek menemukan mama dan kembali ke rumah tanpa merasa bersalah kalau sudah membikin orang khawatir tentang kondisinya. Mama hanya berkata pada saat kakak saya tanya dari manaki : "Dari rumahnya temanku, dipanggil buka puasa" :|

Mama saat sekarang juga jika ditanya pada masa lampaunya masa kecil, masa kuliahnya, masa-masa kecil kita, beliau sangat tajam dan lengkap menceritakan. tetapi jika ditanya apa yang sedang ia lakukakan 10 menit terakhir, semua hilang dan mamapun bikin halusinasi lain, agar kita tak berfikir dia lupa.

Sampai ketika saya di batam berjalan-jalan bersama zaf di kompleks, kami bertemu dengan 2 wanita memakai jilbab menutupi dada sedang asik berjalan-jalan juga di sekitar halaman, anak dan Ibu, seorang anak berangkali umurnya sekitar 40an tahun dan ibunya yang sudah hampir 80 tahun. Saya sebenarnya pengen duluan menegur tapi takut salah moment, ehh ternyata mereka duluan yang sapa aku. Dannnnnn....

Entah ini jalan yang dikasih Allah sama saya atau bukan, anaknya seorang ibu sebut saja ibu fitri, lama saya berbicara sama beliau. Dia berbicara tentang Ibunya yang hampir sama ciri-ciri dan perilakunya sama dengan mama saya, SANGAT PERSIS :'( sayapun berbicara tentang kondisi mama saya dan beliau langsung bilang bahwa ibu anda sama dengan ibu saya termasuk Orang-orang berdimensi atau biasa disebut OOD(Orang-orang Dimensi) nama penyakitnya Alzheimer, segeralah memastikan ke dokter syaraf. Dengan cepat dia membuka handphonenya dan memperlihatkan Video-video tentang OOD, ciri-cirinya, cara penanganannya, cara bersosialisasinya, dan seluruh informasi yang bisa saya akses. langsung saya save yang bisa saya save, yang bisa saya foto saya foto, yang bisa saya utarakan saya utarakan sama beliau. Selama ini saya menemukan orang yang selalu membuat saya bersikap apatis terhadap mama. tapi tidak untuk beliau, dia memberikan saya semangat, dia memberikan saya motivasi, karena sesungguhnya penanggulangan OOD itu bukan hanya pada penderitanya tetapi pada orang yang mendampinginya, karena jika kita tidak memeliki pengetahuan tentang penyakit ini bisa jadi kita juga mengalami depresi bisa menjadikan kita meninggal duluan ketimbang penderitanya *banyak penelitian yang membuktikan. Malah dia mengajak saya untuk pergi seminar dan pelatihan pendampingan OOD yang di jakarta. Ahhhh... andaikan saya tidak dalam keadaan hamil saya langsung iyakan ajakan ibu ini tapi sangat disayangkan :'( Dan satu dari terakhir yang dia bilang : "Rawat Ibumu, jangan sampai terlambat, jangan sampai menunggu beliau hanya tertidur dan melakukan aktivitas di tempat tidur, bersyukurlah jika ibumu masih menjengkelkan. Karena bagi kita seorang anak, Itu Adalah ladang pahala terbesar buat kita! semangat dan terus belajar, jangan lupa berdoa kepada Yang Memberi Kesehatan! Jangan membentak beliau!! karena jika kamu membentak sistem imun yang ada pada ibumu akan cepat menurun! Sabar!"


Seketika itu langsung tercerahkan, pulang kerumah menunggu zaf tertidur, dan pada waktunya saya membaca artikel-artikel tentang alzheimer, email ke komunitas alzheimer yang ada di pusat jikalau saya membutuhkan bantuan, menonton video-videonya, Join di facebooknya, twitter dan apapun yang bisa menambah pertemanan, informasi maupun pengetahuan saya tentang alzheimer ini. Saya berjanji dalam hati jika tak ada halangan dan rintangan saya ingin memaksimalkan waktu saya kepada mama. Bismillah yaa Rabb.

Saya pribadi tidak tahu awal akibat kenapa mama saya mengalami dimensi alzheimer ini, tapi jujur saya mempunyai peran kenapa mama saya menjadi seperti ini, dan setelah saya tahu seperti ini dengan banyaknya informasi saya baca dan gali, semoga itu membantu saya untuk terus mendampingi mama, semoga saya tidak cepat menyerah!! Bagaimanapun saya akan menua juga, dan kelak yang saya inginkan anak saya juga tidak meninggalkan saya :'((

#JanganMaklumdenganPikun

*menulis dengan berlingan air mata karena tidak terhitung sikap ketus/bentakan saya sama mama 

Sembah Sujud buat Ibunda tercinta, SOFIAH IBRAHIM
dari anakmu :*

Lubnah Lukman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar