6 September 2015

Mandi Bola, Menurutmu??!


Assalamualaikum :D

Semenjak hamil anak kedua kegiatan weekend tidak terplanning secara maksimal :p, kenapa? kadang saya sakit hati jika tidak terlaksana, dikarenakan mood keluar rumah yang kadang pengen keluar atau hanya pengen dirumah aja, hasilnya nyesel dimalam harinya :D, Ayah yang kerjaannya juga lagi banyak-banyaknya, atau ada aja kegiatan yang tiba-tiba tidak bisa ditinggalkan, mood saya yang berubah-ubah, zaf yang tipikal dari awal punya keteraturan dalam waktu, contohnya bangun pagi, makan, tidur siang, tidur malam, mandi, dan main waktunya setiap hari teratur tapi jika kita keluar semua buyar dan berdampak ke anak, kadang rewel kadang juga gak. seperti, yang biasanya sehari makannya 5 kali langsung disingkat kadang 2 kali dengan porsi susu ditambah, yah gak mungkin juga kita kerumah makan sampai 5 kali sehari :D, itu cuman makan, lain dengan tidur, kalau kita keluarnya jam 10an pagi bisa jadi dia gak tidur siang tapi tidur malam agak lebih cepat, dan menjelang itu kadang rewel, kebanyakan tidak sih, tapi kadang was-was aja :D

Pengen cerita tentang sabtu ini, rencana sorenya kita mau ajak zaf ditaman bermain outdoor OCARINA BATAM, tapi karena batam lagi hujan-hujannya, kita belok ke salah satu Mol di batam, sayangnya mol itu gak ada toko buku semacam gramedia, jadi salah satu alternatif untuk zaf main yah tempat permainan indoor yang ada mandi bola dan segala macam permainan yang menggunakan mesin. Sebenarnya baru 2 kali ajak zaf kesini diusia sebelum tahun dan sekarang, emang niat dari awal aku gak terlalu ngenalin permainan semacam ini sih, bisa disebut permainan modern, ada khawatiran pribadi jika zaf punya ketergantungan dengan permainan jika selalu saya bawa kesini *aku punya pengalaman anaknya teman aku soalnya dan dampaknya negatif banget. Entah aku yang khawatir banget, atau emang aku seorang ibu yang katro :p

Ada malah yang bilang ngenalin aja, toh nanti dia bosen sendiri saat usianya dia semakin bertambah. Lalu akupun bertanya sama ibunya, lalu sekarang anak ibu yang berusia 4 tahun main apa? sekarang udah masuk TK, main yang diajarin disekolahnya, nonton kaset film frozen dan film-film lain, nonton tv, dan lebih suka di rumah, dan saya suka itu.

Nah, Salahkah jika saya bilang itu masalahnya?diusia 4 tahun yang sebenarnya masuk pada tahap yang biasa di sebut dengan pengenalan sesuai ikonnya (ketika seorang anak mencoba memahami lingkungannya dengan gambar yang ada disekitarnya), contohnya gambar bola ditunjukkan sesuai dengan bola yang ada disekitarnya , nah masuk pada fase dia sekitar 6 tahun baru masuk pada fase praktek, contohnya anak itu sudah tau fungsi bola itu secara umum untuk menendang atau alat bermain. Nah kalau diumur 4 tahun sudah pasif, padahal pada fase itu dia harus lebih mengeksplor seluruh Indranya, apa jadinya pada masuk fase sekolah bisa jadi dia sudah mengerti, lalu timbul kejenuhan, atau bisa jadi dia bermain dengan permainan yang tidak sesuai dengan umurnya *baca: melebihi umurnya* menurutku loh.

Ada pertanyaan menarik, apakah tahap tersebut sama pada semua orang secara alamiah atau sesuatu yang bisa dipelajari sehingga seorang anak bisa melompat ke tahap perkembangan yang belum waktunya? Menurut yang saya pernah baca, lupa bukunya apa, dia bercerita, bahwa dulu masa kecilnya sudah dikasih dengan bahan-bahan yang berat dan menggunakan metode dengan tahap perkembangan anak yang lebih tinggi, dan dia sanggup melewati bahan-bahan yang berat itu sebelum usianya, dan lingkungannya menyebut dia jenius, TK,SD, sampai SMP dia melewati dengan nilai yang sempurna, masuk pada masa dia SMA dia sudah mengalami kejenuhan, dampaknya dia ikut ke temannya yang nakal dan mempunya prestasi yang tidak bagus, hasilnya prestasi dia menurun yang biasanya rangking 1 menurun menjadi 2, dia pun stress karena dia dimarahi oleh orangtuanya karena tidak belajar, tapi orang sekelilingnya menganggap dia tetap luar biasa. Bisa disimpulkan lingkungan kita beranggapan keberhasilan seutuhnya jika prestasi akedemik kita bagus dan luar biasa. Yah memang dia berhasil diakademik tetapi gagal secara emosional. Akibatnya mempengaruhi mental dan daya tahan psikis dia.   

Atau saya bertanya pada saya sendiri, apakah saya bisa memaksakan zaf untuk belajar tidak sesuai tahapannya? Bisa saja sih, Anak adalah pembelajar dan peniru ulung, anggaplah dia sebagai wadah, apapun yang diisi dalam wadah itu pasti ditampung dengan cara metode menekan, tapi jika diisi secara berlebihan wadah itu akan tumpah juga, bisa jadi merusak struktur didalamnya termasuk emosi yang dimiliki seorang anak. Mungkin saja anak itu berhasil, tapi karena belum waktunya dia menerima dengan pikiran dan akalnya yang kompleks, seandainya berhasil, bisa jadi anak memang itu pintar secara akademik, tapi gagal secara emosional. dan jika tetap dipaksakan model pemaksaan pembelajaran ini, kita sebagai orang tua harus meng-cover efek psikologisnya dikemudian hari, supaya tidak rawan stress. Nah salah satunya dengan Ajak dia meluapkan emosinya seperti bermain di alam/outdoor atau bisa disebut dengan refreshinglah yah :D

Kembali lagi dengan mandi bola, ternyata zaf saya amati, tetap mengamati dan bermain sendiri, sekali-kali hanya bermain dengan temannya, pertama heran kali yah ada dunia lain dan pemainan yang lebih bagus kayanya ketimbang bersama emaknya :p tapi tetap zaf butuh pengarahan sekali-kali, dia menatap saya seperti minta penjelasan, setelah saya jelaskanpun entah dia mengerti ataupun tidak. Tidak seperti anak yang lain yang aktif melakukan seluruh aktifitas permainan disana. Entah udah terbiasa, atau memang daya tangkap anak memang tau bahwa ini tempat bermain.

Sayapun tidak berkecil hati jika zaf harus menggunakan waktu yang lama untuk menyerap ini tempat seperti apa, dia melihat, mengamati, bermain tetap pada barang-barang yang berotasi seperi ban sepeda, motor, mobil, atau permainan yang ada rodanya dan terputar. Hanya sekali-kali dia bermain dengan teman sebayanya, tapi dia kembali sibuk dengan dirinya sendiri, saya sama ayahnya cuman mengawasi, membiarkan dia mencerna semua, tanpa memaksakan dia main apa, padahal pengennya sih zaf aku lihat udah manjat-manjat, seperti yang dia lakukan dirumah, tapi disini dia tidak lakukan, Hahahaha. kita gak sampai 2 jam juga disini, memberikan penjelasan kepada zaf bahwa waktunya sudah habis, dan dengan sigap ayahnya gendong, dan alhamdulillah dia tidak mengamuk :D



Mandi bola juga kan terlalu banyak berita negatif disisi kesehatannya, pernah aku googling ada beberapa kasus bahwa mandi bola ini karena jarang dibersihkan, nah itu jadi masalahnya. Apalagi mandi bola ini berada dalam ruangan yang pengap tanpa ada sirkulasi udara yang segar + tidak adanya sinar matahari yang membuat virus-virus cepat berkembang jika ada pemicu seperti muntah anak yang tidak dibersihkan, makanan tertumpah yang tak terlihat sama pegawainya dan membuat sampah yang tidak dibersihkan. dan hasil dari googlingan itu aku jadi hati-hati untukmembawa anak ditempat seperti itu. Dan yang aku tekankan disini, Tempat seperti itu yang dikhusukan untuk anak-anak, bisa lolos ASAP ROKOK yah :(

Pernah aku curhat sama kakak aku, tentang gaya parenting pada anak itu ternyata banyak kaliiii pusing kadang saya mau terapkan seperti apa zaf, semakin banyak aku membaca semakin aku pusing :( tujuannya cuman satu, Seorang anak tidak memilih dirahim mana dia ditempatkan, dia tak memilih orangtuanya. Saya tidak mau jika akhirnya zaf kecewa memiliki seorang Ibu dan Ayah seperti ini. Saya cuman hanya mau menikmati waktu yang sedikit dengan anak saya semaksimal mungkin dan dengan hari-hari yang luar biasa.

Dan kakakku pun memberikan pandangannya, seperti ini kira-kira :
"Mendidik seorang anak, bukan pada saat dia dilahirkan atau pada saat kamu dinyatakan positif hamil. Tapi bagaimana KAMU dulunya. Salah Satu yang berperan besar dalam keberhasilannya adalah bagaimana terus kamu memperbaiki diri, anakmu membutuhkan Figur seorang Ibu dan Ayah yang 'kuat', bagaimanapun kamu menjaganya dengan memberikan makanan yang berkualitas dan halal, disekolahkan ditempat yang baik, memberikan lingkungan yang sehat, tapi tetaplah berdoa kepada Yang  Maha Penjaga Sebaik-baiknya Penjaga yaitu ALLAH SWT.
Kadang kita selalu membandingkan anak kita dengan orang lain, atau rumahtangga kita dengan rumahtangga orang lain. tetapi kadang yang kamu lihat diluar bagus atau buruk tidak untuk Allah SWT, semua ada sisi yang terbaik buat masing-masing manusia, dan semua ada hikmahnya.

Teruslah 'mengingat', Teruslah 'jaga' Harta yang masuk ke rumahmu dan terus memperbaiki diri, belajar dan terus Belajar, karena sesungguhnya Manusia adalah tempatnya Salah'

Maaf jika ada yang salah, kita sama-sama bisa saling berdiskusi dan saling memperbaiki diri :)
Salam hangat.
Lubnah Lukman :))

2 komentar:

  1. masyaAllah betul kakak ta di' kak unnaaa
    bagaimaana ma saya ini nanti hahahaha
    T__T

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya lebih2 qiahh.. itu makanya berusaha untuk perbaiki diri mamaZAM.. semangattttt!!! heheh

      Hapus