12 September 2015

Sirkus Lumba-Lumba

"Menunjukkan sirkus lumba-lumba pada anak, sama dengan mengajarkan bahwa peran lumba-lumba adalah menghibur manusia. #SaveDolphin." - @NGIndonesia

Assalamualaikum :))

Sewaktu kecil ketika saya masih duduk dibangku SD, ketika itu saya bersama teman-teman sekolah lagi ikut rombongan yang diadakan sekolah untuk menyaksikan pertunjukan sirkus lumba-lumba. yang pas memang lokasinya ada didepan sekolah saya yaitu Lapangan Karebosi.
Saat itu perasaan saya sangat senang sekali, bersama teman-teman dan guru berlomba-lomba duduk dibarisan paling depan tujuannya hanya melihat lebih dekat lumba-lumba yang katanya hewan paling pintar sedunia.

Awal dari situ sebenarnya saya pribadi ingin mengajak anak saya untuk melihat ada loh jenis hewan yang hidup di dua alam, yang sangat pintar, pikiran saya pasti rasa senang saya waktu itu akan sama dengan senangnya zaf biarpun dia masih belum mengerti penjelasan saya, tapi jika dia melihat langsung hewan tersebut bisa dipastikan dia sangat senang.
Karena rasa kesenangan itu saya tidak kepikiran bahwa adakah sisi edukasi yang saya ajarkan ke zaf jika saya mengajak dia nonton sirkus lumba-lumba ini. saya hanya kepikiran zaf bisa menambah pengetahuan akan jenis satwa yang biasanya dia lihat hanya digambar. bisa dia lihat langsung. sama pada waktu dia mengunjungi SEA Aquarium di Singapur bulan kemarin. 

Karena baru pertama kali lihat bahwa ada pertunjukan sirkus lumba-lumba di batam, makanya sayapun langsung menghubungi teman-teman di batam untuk sama-sama mengajak anak kita untuk melihat pertunjukan ini. Kamis hari yang kita sepakati untuk kesana pada jam 5 sore, kenapa memilih kamis? karena takut jika weekend pengunjung yang banyak, kita kehabisan tiket dan tempat duduk, disamping itu juga harga tiket yang agak mahal ketimbang kita pergi saat weekday.

Saya bersama Ibu fretty (Mom Evra) Kita Janjian di Kepri Mol tapi ujung-ujungnya dia menjemput saya, hehehe Makasih Mom :* sambil menunggu Ibu yuni, keasyikan ngobrol dan ternyata Ibu yuninya gak jadi pergi dengan satu alasan, makanya langsung panik, dan kejar-kejaran dengan waktu supaya kita tidak telat.Tapi akhirnya kita telat 30 menit :( Dimana tempat acaranya di Taras Mall, memang kita belum pernah kesana, kiranya dekat ternyata agak lumayan jauhlah untungnya kita menggunakan alat bantu GPS, jadi keterlambatan gak terlalu lama, tapi tetap aja telat. Petugas tidak mau membiarkan kami masuk, karena disayangkan tiketnya, pertunjukan tinggal beberapa menit lagi. Ia sih, Harga yang kita rencana ambil VVIP yang pas didepan kolam Rp.75,000 hanya melihat akhir acara yang memang durasinya hanya 45 menit. Rugi jadinya :( Memilih VVIP dibanding regular yang hanya Rp. 55.000, perhitungannya jika reguler kita harus ngantri di pintu masuk, berlomba mencari tempat yang bagus, dilain sisi saya sedang hamil + membawa zaf yang pasti pada saat kami masuk dan mencari tempat kita berlomba-lomba, dibayangkan letihnya saya :( dan persoalan harga jika memilih reguler kita harus membeli tiket 2 (ibu dan anak) tapi jika VVIP sudah masuk gak ngantri + tempat duduk yang sudah disediakan, ditambah kita cukup membeli 1 tiket karena anak-anak kami kan tidak butuh kursi tapi hanya tetap dipangkuan kami. :) Hemat kan :)
Makanya besok niat pagi-pagi kita ambil jadwal jam 10 pagi, pada saat ayahnya zaf mau kekantor saya ikut nebeng kerumah mom evra yang kebetulan dekat dari kantor, tinggal sebentar lalu pergi menjemput bu Yuni (Bunda Fathir) perjalanan kesana memakan waktu lumayan lama, dan akhirnya kita telat lagi :( akhirnya kita cuman membeli tiket untuk pertunjukan jam 4 sore yang dengan niat yang sungguh-sungguh TIDAK akan telat lagi, pengen ketawa sih hahahahahah betul-betul perjuangan ini kita menonton lumba-lumba. setelah membeli tiket kita berkumpul dirumah saya aja, menidurkan anak-anak dulu karena emang pada jam tidurnya + agar mereka gak rewel sih saat menonton sebentar sore. Jam 2 tepat kita keluar dari rumah, makan siang dulu dan akhirnya kita juga diburu-buru oleh waktu padahal udah prepare pergi diawal agar gak telat, akhirnya telat lagi tapi cuman 5 menit kok :p 
Ternyata benar, ramai sekali, padahal itu weekday loh, gimana yang weekend, dan setiap harinya ada 4-5 kali pertunjukan dengan tingkat keramaian yang selalu ada. Pribadi saya kurang puas sih dengan pertunjukannya, hanya sebentar, dan kepotong gara-gara ada sesi foto (berfoto dengan lumba-lumba) yang disimpan ditengah waktu.
Tapi Alhamdulillah, setidaknya perjuangan 2 hari ini, terlaksana juga. Zafran yang begitu senangnya, emaknya yang kelelahan. Nonton hanya sebentar tapi persiapan dari kemarin :D
Pas pulang dan ingin nulis diblog tentang kegiatan ini, Saya begitu terkenang akan kedua lumba-lumba ini. Betapa pintar dan mengertinya mereka. Berenang mendekat, berputar, berdiri dan bermanuver dengan menggelepar-geleparkan badannya menyamping. Tapi entah ada rasa ingin tahu manfaat yang diperoleh anak itu apa.

Saat itu langsung googling dan.... Hwaaaa.....sungguh saya merasa tidak enak. Seperti tertampar rasanya. #Plak #Plak #Plak. Kemana saja sih saya selama ini? saya fikir kampanye selama ini hanya #savesharks tapi ternyata ada #SaveDolphin juga yang digagas oleh Richard O’ Barry.


Data yang dikumpulkan JAAN (Jakarta Animal Aid Network), membenarkan informasi penyiksaan tersebut. Lumba-lumba ternyata dipaksa patuh dengan menerapkan diet ketat. Untuk mendapatkan makanan, satwa ini harus bersedia mengikuti perintah pelatih seperti melompat, menyambar bola, hingga melewati cincin api. Daging ikan, itulah pamrih yang diterima lumba-lumba patuh dari pelatih. Setelah dilatih, lumba-lumba dipindahkan ke kota-kota pertunjukan. Lagi-lagi mendapati perlakuan yang tidak wajar terhadap spesies dengan nama latin Tursiops aduncus ini. Lumba-lumba ditempatkan di dalam kotak sempit.

Kulit lumba-lumba yang cepat mengering karena terpapar udara hanya dilumuri pelembab. Jika pelembab tidak ditemukan, penyelenggara sirkus mengoleskan mentega di kulit lumba-lumba. Kotak berisi lumba-lumba kemudian dimuat ke dalam truk pengap dan gelap yang mengangkut satwa sirkus ke kota pertunjukan berikutnya.
Kolam pementasan lumba-lumba juga menjadi neraka tersendiri. Kolam melingkar dengan diameter 6 meter berkedalaman 3 meter ini diisi oleh air laut buatan. Penyelenggara membuat air asin ini dengan mencampurkan air ledeng dengan berton-ton garam. Senyawa pembunuh kuman bernama klorin dicampurkan ke dalam air kolam. Klorin yang bersifat korosif dipastikan merusak organ mata yang sensitif. Lumba-lumba pun menjadi rabun. :( 
Ada lagi penyiksaan lumba-lumba ... Pada suatu acara sirkus, animo dan “crowd” penonton pasti sangat meriah. Suara ini ternyata dapat mengganggu dan tanpa kita sadari menyakiti mamalia tersebut. Habitat Ideal Lumba-lumba adalah lautan lepas, bukan kolam dan dijadikan tontonan banyak orang, Atraksi tersebut menjadikan lumba-lumba stres hingga akhirnya cepat mati. Menurut beberapa ahli, lumba-lumba yang berada di pertunjukan menyusut umurnya mencapai 5 tahun padahal jika dialam bebas bisa sampai 45-50 tahun :(
Data yang dikumpulkan JAAN membenarkan informasi penyiksaan tersebut. Lumba-lumba ternyata dipaksa patuh dengan menerapkan diet ketat. Untuk mendapatkan makanan, satwa ini harus bersedia mengikuti perintah pelatih seperti melompat, menyambar bola, hingga melewati cincin api. Daging ikan, itulah pamrih yang diterima lumba-lumba patuh dari pelatih.
Setelah dilatih, lumba-lumba dipindahkan ke kota-kota pertunjukan. Coki lagi-lagi mendapati perlakuan yang tidak wajar terhadap spesies dengan nama latin Tursiops aduncus ini. Lumba-lumba ditempatkan di dalam kotak sempit.
3468723_20120727045525
Lumba-lumba Dilumuri dengan Metega
Kulit lumba-lumba yang cepat mengering karena terpapar udara hanya dilumuri pelembab. Jika pelembab tidak ditemukan, penyelenggara sirkus mengoleskan mentega di kulit lumba-lumba. Kotak berisi lumba-lumba kemudian dimuat ke dalam truk pengap dan gelap yang mengangkut satwa sirkus ke kota pertunjukan berikutnya. "Lumba-lumba dipastikan kepanasan dan tertekan selama dipindahkan," kata Coki.
270665_139180032828833_619873_n
Kolam pementasan lumba-lumba juga menjadi neraka tersendiri. Kolam melingkar dengan diameter 6 meter berkedalaman 3 meter ini diisi oleh air laut buatan. Penyelenggara membuat air asin ini dengan mencampurkan air ledeng dengan berton-ton garam. Senyawa pembunuh kuman bernama klorin dicampurkan ke dalam air kolam. Klorin yang bersifat korosif dipastikan merusak organ mata yang sensitif. Lumba-lumba pun menjadi rabun.
- See more at: http://www.inikabarku.com/2012/09/hentikan-sirkus-keliling-lumba-lumba.html#sthash.NWElX31t.dpuf
karena itu, mulai banyak aksi protes dibelahan dunia terhadap eksploitasi si lumba-lumba. Dan, satu-satunya Negara yang masih memperbolehkan aksi ini ternyata Indonesia. Itu negara saya :( dan ternyata hanya ada 3 tempat di Indonesia yang mendapat izin resmi boleh melakukan pertunjukan lumba-lumba yaitu Ancol di Jakarta, Taman Safari di Cisarua, dan wersut Seguni Indonesia di semarang. Jadi yang kemarin kami nonton itu ILEGAL yah?? :(
Data yang dikumpulkan JAAN membenarkan informasi penyiksaan tersebut. Lumba-lumba ternyata dipaksa patuh dengan menerapkan diet ketat. Untuk mendapatkan makanan, satwa ini harus bersedia mengikuti perintah pelatih seperti melompat, menyambar bola, hingga melewati cincin api. Daging ikan, itulah pamrih yang diterima lumba-lumba patuh dari pelatih.
Setelah dilatih, lumba-lumba dipindahkan ke kota-kota pertunjukan. Coki lagi-lagi mendapati perlakuan yang tidak wajar terhadap spesies dengan nama latin Tursiops aduncus ini. Lumba-lumba ditempatkan di dalam kotak sempit.

- See more at: http://www.inikabarku.com/2012/09/hentikan-sirkus-keliling-lumba-lumba.html#sthash.NWElX31t.dpuf
Data yang dikumpulkan JAAN membenarkan informasi penyiksaan tersebut. Lumba-lumba ternyata dipaksa patuh dengan menerapkan diet ketat. Untuk mendapatkan makanan, satwa ini harus bersedia mengikuti perintah pelatih seperti melompat, menyambar bola, hingga melewati cincin api. Daging ikan, itulah pamrih yang diterima lumba-lumba patuh dari pelatih.
Setelah dilatih, lumba-lumba dipindahkan ke kota-kota pertunjukan. Coki lagi-lagi mendapati perlakuan yang tidak wajar terhadap spesies dengan nama latin Tursiops aduncus ini. Lumba-lumba ditempatkan di dalam kotak sempit.

- See more at: http://www.inikabarku.com/2012/09/hentikan-sirkus-keliling-lumba-lumba.html#sthash.NWElX31t.dpuf
Data yang dikumpulkan JAAN membenarkan informasi penyiksaan tersebut. Lumba-lumba ternyata dipaksa patuh dengan menerapkan diet ketat. Untuk mendapatkan makanan, satwa ini harus bersedia mengikuti perintah pelatih seperti melompat, menyambar bola, hingga melewati cincin api. Daging ikan, itulah pamrih yang diterima lumba-lumba patuh dari pelatih.
Setelah dilatih, lumba-lumba dipindahkan ke kota-kota pertunjukan. Coki lagi-lagi mendapati perlakuan yang tidak wajar terhadap spesies dengan nama latin Tursiops aduncus ini. Lumba-lumba ditempatkan di dalam kotak sempit.
3468723_20120727045525
Lumba-lumba Dilumuri dengan Metega
Kulit lumba-lumba yang cepat mengering karena terpapar udara hanya dilumuri pelembab. Jika pelembab tidak ditemukan, penyelenggara sirkus mengoleskan mentega di kulit lumba-lumba. Kotak berisi lumba-lumba kemudian dimuat ke dalam truk pengap dan gelap yang mengangkut satwa sirkus ke kota pertunjukan berikutnya. "Lumba-lumba dipastikan kepanasan dan tertekan selama dipindahkan," kata Coki.
270665_139180032828833_619873_n
Kolam pementasan lumba-lumba juga menjadi neraka tersendiri. Kolam melingkar dengan diameter 6 meter berkedalaman 3 meter ini diisi oleh air laut buatan. Penyelenggara membuat air asin ini dengan mencampurkan air ledeng dengan berton-ton garam. Senyawa pembunuh kuman bernama klorin dicampurkan ke dalam air kolam. Klorin yang bersifat korosif dipastikan merusak organ mata yang sensitif. Lumba-lumba pun menjadi rabun.
- See more at: http://www.inikabarku.com/2012/09/hentikan-sirkus-keliling-lumba-lumba.html#sthash.NWElX31t.dpuf
Saat ini ada perasaan bersalah karena menonton sama halnya saya merusak habitat sesungguhnya lumba-lumba. Mengajarkan ke anak saya secara tidak langsung lumba-lumba itu hewan penghibur. Astagfirullah. Maafkan. Saya hanya seorang Ibu yang senang jika anak saya tersenyum lebar dan gembira, tapi sekarang harus tahu dari senyum gembira itu saya harus tau alasannya, jika salah sepatutnya saya menjelaskan :(

#SaveDolphin #StopSirkusLumbaLumbaKeliling

Lubnah Lukman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar