22 November 2015

22 November

Assalamualaikum 


Entah tahun berapa saya bertemu untuk pertama kali sama lelaki ini, saya sudah tidak mengingatnya lagi. Kita bersama dalam satu organisasi kemasyarakatan yaitu Muhammadiyah sudah sejak SMP khususnya saya, kak awal yang dulu saya menyebutnya baru aktif semenjak SMA, tapi yang jelas kita menjadi teman dekat semenjak tahun 2005 pada saat saya kelas 3 SMA di SMA 1  dan dia tahun kedua di fakultas teknik UNHAS. Dan pada akhirnya kita menikah ditahun 2012.

Sepenggal pertemuan kami yang memang sudah terpatri dari hati saya, lelaki kedua yang buat saya nyaman dan semoga bukan lelaki pertama yang membuat saya sakit hati.

Awaluddin Paingngi

Kak Awal, Abang, iting dan sekarang saya menyebutnya dengan sebutan sayang atau ayah.

Dan selalu menjadi perpustakaan berjalan bagi saya dari awal kenal sampai sekarang. Jikalau malas googling tinggal bertanya kepada dia.

7 tahun lebih kita menjadi teman dekat, hampir 4 tahun kita hidup menjalani sebagai figur sepasang suami – istri, dan hampir 2 tahun menjalani sebagai orangtua. Dengan berjalannya waktu, perbedaan dalam sikap dan sifat sangat jelas berbeda, lagian memang dimana tanggung jawab jauh lebih berbeda dan menantang, bukan kaget karena sayapun terus ikut menyusaikan ritme kehidupan kami, karena itu malah dia dengan kekurangan dan kelebihannya berhasil menciptakan zona nyaman bagi saya jika dekat dengan lelaki yang hari ini berulang tahun. Semoga seterusnya demikian.

22 November

Tanggal kelahiran dari seorang lelaki yang tidak romantis tapi selalu memancing saya untuk melakukan tindakan yang romantis. Tidak banyak ngomong tapi sekali ngomong kadang selalu membuat saya terdiam. Setahun lalu kami merayakan bersama sambil liburan bersama anak kami, dan tahun ini kami berpisah di kota masing-masing, Inshaa Allah ada tambahan keluarga baru lagi, doakan yah! itu menjadikan kita berpisah untuk sementara waktu dia di batam, dan saya di Makassar tepatnya di rumah dimana masa kecil sampai sebelum merantau dia berada disini, yah rumah dari Mama – bapak = mertua saya.

Mama

Seorang yang selalu bikin saya cemburu, sikap sebagai ibu yang sangat dekat dengan suami saya dan semua anaknya. Seperti sepasang sahabat yang saling merindu. Tiap hari menelpon anaknya, tiap hari menyapa, bercanda, bergurau, curhat. Yah, Ibu dan anak yang sangat dekat. Saya  bukan tipikal seperti itu yang selalu suka menggenggam telfon dan berbicara lama dengan orang yang selalu membuat saya merindu, entah orangtua atau suami entah nanti kalau anak saya apakah tetap menjadi susah mengangkat telfon atau malah telfon yang tak pernah lepas dari tangan saya menanyakan ‘anakku kamu dimana sekarang? Sedang berbuat apa? Bersama siapa?”. Tapi saya lebih suka bertemu, menatap muka, ngoceh seharian, dan berpelukan sambil berkata saya rindu. Berbicara sama mama tentang Awaluddin Paingngi gak ada habisnya. Kakak yang hangat, anak kecil yang salalu membongkar mainan, berhasil memakai baju sendiri pada usia sudah beranjak sekolah dasar, besar selalu membongkar isi kulkas, pemakan ‘segalanya’, dan banyak. Seorang ibu yang sangat merindu dengan anak lelakinya paling pertama. SMA sudah jarang dirumah, kuliah apalagi, sampai selesaipun langsung merantau ke daerah orang, dan menikah. Secepat itu katanya. Makanya tidak heran jika anak lelakinya ini pulang dirumah, ciuman bertubi-tubi, pelukan yang sangat erat ia dapat dari ibunya. Dan rindupun terlampiaskan.

Rindu

Sangat!

Saya

Zafran

Sangat merindu!

Teringat ketika awal tahun pernikahan kami, saat kami masih bekerja di kota masing-masing. Ketika saya ijin tanpa berkata di kantor bahwa saya akan ke batam. Dan pada saat pramugari berkata “Selamat datang di bandara Hang Nadim Batam……………………..” dan segera langsung aktifkan handphone secepat itupun masuk panggilan, sayapun langsung menindis tanda ‘accept’ dan diseberang sana berkata : “udah sampe sayang? Saya sudah di bandara” ahhhhh, rasanya seperti merantau di negeri orang pulang kekampung halaman dan langsung menikmati es pisang ijo. Gak kebayang segarnya. Begitulah rasanya rindu. Maka nikmatilah. Sama seperti sekarang. Rindu dan sangat. Dan jika saatnya bertemu, diamkanlah sejenak. Dan rasakan gejolaknya.

Tapi saya tidak akan diam,

Untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk seorang kakak yang udah tau jelek baiknya saya, seorang suami yang masih belajar gimana memperbaiki kondisi hatinya dan hati saya jika sama-sama diambang ego masing-masing, seorang ayah yang selalu sedia pundak dan dadanya tempat kami selalu menyandar dan mendapatkan pelukan yang erat. Selamat ulang tahun Awaluddin Paingngi. Terus belajar menjadi lelaki yang sholeh, dijauhkan dari api neraka, diberikan kesehatan, dan keberkahan disetiap langkahnya.

Teruslah berbakti kepada ibumu,

sayangi Istri dan anak-anakmu.

Kami semua mencintai dan menyayangimu.

Lubnah Lukman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar