29 November 2015

Review book : Ketika Ibu Melupakanku (DY Suharya & Dian Purnomo)

Assalamualaikum :)




Tak ada anak yang ingin dilupakan orangtuanya, 
malah mungkin lebih banyak anak yang melupakan orangtuanya.

....Aku sedih karena tidak ada di sisi Mama dan Papa di hari-hari terberat mereka. Tapi aku sangat bersyukur dan merasa beruntung karena papa yang usianya 85 tahun tetapi masih sangat gagah, sehat, dan bugar. Mungkin inilah kenapa Tuhan memberikan usia panjang dan kesehatan pada papa. Ada 'misi khusus' dan sesuatu yang harus dikerjakannya untuk orang yang paling dicintainya.......

Sepenggal paragraf dari isi buku ini, kalimat yang seakan-akan cerminan dari saya yang salah satu ibunya penderita alzheimer. Yah Bapak saya adalah tulang punggung kami untuk bisa menjaga mama. Bapak seperti cerminan dari seorang mama saya, lebih mengetahui apa yang harus ia lakukan kepada orang yang ia citai yaitu mama, ketimbang anak-anaknya. Melihat bagaimana mereka saling membutuhkan satu sama lain, begitu sebaliknya. Kedua orangtuaku ini adalah utusan dari Allah SWT untukku. Dari mereka aku dapat banyak hikmah dan pembelajaran tentang hidup. Saya sayangki mam, pak :*

Dari pertama tahu ada buku yang berjudul seperti ini, pengen langsung pesan online, tapi terkadang jika online sampainya lama kepada yang pesan, jadi sebelum saya pesan online saya usaha ke toko buku dulu yang di batam. Ehh, Alhamdulillah, ternyata ada. Bahagia! Banget!

Pulang rumah, langsung 2 hari khatam, rasa penasaran, rasa ingin tahu, rasa tidak bergunaku menjadi anak di masa-masa tua seorang ibu bercampur jadi satu.

Saya masih beruntung ketimbang penulis ini, tapi tidak membuat saya berbangga diri, malah ada rasa saya mempunyai teman biarpun tidak saling kenal tapi setidaknya saya mempunyai motivator salah satunya penulis ini, memotivasi saya untuk terus berjuang untuk mencari ilmu, mendampingi mama jikalau saya masih ada di Makassar.

Memabaca buku ini, pikiran saya terbuka bahwa Alzheimer itu bisa datang dari mana saja, bisa dari mana awal penyebabnya, dan berbagai macam ciri-ciri dan kisahnya, tapi secara garis besar saya membaca buku ini seperti membaca kisah hidup saya sendiri, saya yang salah satu anak yang mempunyai ibu seorang Alzheimer.

Penulis menceritakan gimana awal rumah bagaikan bukan menjadi tempat pulang yang nyaman tapi beliau tidak tahu sebenarnya alasannya yang mendasari apa, sama dengan saya, saya lebih nyaman di luar rumah, kuliah kadang gak pulang karena lebih nyaman mengerjakan kerjaan kampus di rumah teman, sudah itu ambil kerjaan, sudah kerja pun langsung lanjut kuliah, sudah kuliah saya ambil kerjaan part time sampai kadang tengah malam. Itu semuanya saya lakukan untuk menghindar tinggal dirumah, tapi bukan alasan mama sih yang menjengkelkan. Tapi sekarang baru sadar kenapa saya dulu bersikap seperti itu.

Buku ini salah satu buku penunjang saya untuk berhadapan sama mama, kalau sudah letih menghadapi mama. Salah satunya saya baca ulang lagi novel ini, dan dengan cepat semangat saya kembali bergejolak.

Terima kasih khusunya kepada penulis, bukan hanya menulis kisahnya dibuku ini tetapi, seorang penggiat alzheimer. Karena kesadarannya beliau membuat semacam gerakan salah satunya membuat yayasan memerangi pikun. Yayasan Alzheimer Indonesia. Dari sini saya bisa dapat info sebanyak-banyaknya untuk bagaimana cara menangani khususnya Ibu saya.

Lubnah Lukman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar