23 November 2015

Review : Critical Eleven (Ika Natassa)

Assalamualaikum :)


Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat -- tiga menit setelah take off dan depalan menit sebelum landing -- karena secara statistik 80% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

Sepenggal cerita dalam buku yang bikin saya susah move on dengan novel ini padahal udah lama khatam, dibaca lagi akhirnya punya kesempatan untuk review novel ini. Benar kata Seorang Ninit Yunita ".... Ika sebagai pilot, mengendalikan segalanya dengan sangat baik dan berakhir dengan super smooth landing...."

Dari beberapa novel ika, yang paling saya rasa klimaks yah novel ini. Paling saya suka. Sosok Anya dan Ale dibuat sedekat pembacanya. Karena ika menceritakan plotnya dari sudut pandang Anya dan Ale. Kurang tebal menurutku :) kekurangannya hanya satu, endingnya kurang lama :D

Dari cerita, saya pernah mengalami perasaan yang sama dengan anya tapi Alhamdulillah dan jangan sampai terjadi setragis itu. Anaknya aidan yang ia kandung 9 bulan tetiba Meninggal dalam kandungan dan mengeluarkan melalui proses normal. Ditambah setelah itu suami tempat kita menaruh pundak kita untuk mengatakan aku sangat sedih, mengatakan : Kau seorang ibu yang telah membunuhnya.
Ada teman yang mengatakan sosok anya yang terlalu keras, tapi saya tidak sepakat karena sayapun pernal melalui proses seperti itu, biarpun janin hanya dititipkan 3 bulan lebih, dikeluarkan melalui jalan operasi, jangan tanya masalah rasa bersalah saya terhadap anak saya, khususnya ke suami, termasuk emosi saya yang pada saat itu jadi tidak menentu mempengaruhi psikologi saya saat itu. Makanya apapun yang perkataan negatif yang dilimpahkan ke kita bisa jadi bumerang baik bagi kita sendiri atau hubungan selanjutnya. 

ahhh.. tapi sudah terlewat. Alhamdulillah.Tapi diluar itu tokoh anya yang dikisahkan oleh ika dinovel ini, wanita lebih banyak bermain dengan perasaan ketimbang logika, cantik, sangat mandiri, berpendidikan lulusan luar negri dengan konsumsinya yang bisa dikatakan level menengah ke atas, bahkan level sangat atas, Wanita karir yang hidupnya sibuk. Anya merasa terpukul, sangat terpukul dengan tragedi yang menimpanya, ditambah lagi dengan persepsinya akan tindak tanduk Ale dalam menghadapi tragedi tersebut. Anya tampak sebagai sosok yang keras kepala namun dingin, bahkan menjadi lebih dingin ketimbang Ale. Sayapun berfikir Anya ada sosok wanita sempurna menurutku, tapi itu tadi sempurna bagaimanapun terlihat dari luar perempuan tetap lebih bermain diperasaan. Kita tidak bisa melihat kebahagian orang dari luar, semandiri dan sekelas apapun selalu ada kemasalahan hidup yang harus dilewatinya. 

Kembali ke bahasan novel ini, Bersama dengan novel antalogi rasanya, sangat kentara jika ika selalu melakukan riset terhadap novel kedua ini, dilihat salah satunya dari catatan kecil yang dia tulis sehingga saya sebagai orang awam memahami arti dan korelasi dari cerita ini. Semacam memberikan edukasi dan pengetahuan baru buat kita pembacanya. Sepertinya ika memang mempersiapkan novel ini, tidak dengan asal-asalan, sekedar menuangkan isi kepala di lembaran kosong.

Cara penulisannyapun lugas,dilihat dari saya yang capek mengatur emosi disetiap lembarnya. Selalu terkaget dengan kejadian disetiap kelanjutan ceritanya. Kadang saya berhenti membaca untuk mengambil nafas karena kadang tidak terima yang dialami anya dan ale. Dilihat dari cerita juga ika menceritakan dari sudut pandang anya dan Ale, jadi pembaca dibuat gemes karena ternyata pikiran dari Ale contohnya tidak ditangkap oleh anya begituupun Anya ke Ale. Berangkali itu jadi jualan novel ini. Kita selalu dibikin penasaran pada setiap pemikiran masing-masing tokohnya. 

Secara garis besar kuberi angka 9 dari 10 angka yang saya punya. Ika Natassa menuliskan dengan rapi, terstruktur, dan mendetil. Jika aku boleh memilih, aku lebih suka Critical Eleven ketimbang Antalogi rasa, biarpun yang twivorteare belum aku baca. tapi selanjutnya saya akan baca itu. 

Lubnah Lukman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar