16 Desember 2015

Welcome Adek Ruby

Assalamualaikum :D


Alhamdulillah 

Akhirnya punya kesempatan untuk buka laptop dan kembali menulis :D 

Deket dengan keluarga, banyak yang bantuin selama di makassar membuat saya lengah, selalu bilang gak ada waktu tapi kalau diingat-ingat banyak sih waktunya, tapi selalu dipake yah itu untuk istirahat. Jauh dari suami dibanding banyak orang seperti bapak, mama, kakak, mertua dan siapapun itu tidak membuat saya percaya diri menghadapi zaf yang aktif banget dan ruby yang masih beradaptasi dengan dunia barunya. 

Sendiri, suami, dan 2 anak dibatam tanpa bantuan siapapun. dihari ke lima saya disini, membuat saya bisa langsung beradaptasi dan kembali memiliki waktu untuk menulis. Termasuk anak-anak, dihari keempat zaf dan ruby entah lingkungan yang membuat dia taat dengan waktu baik istirahat dan makannya, khusus ruby yang alhamdulillah masih ASI Ekslusif.

Benar memang hidup mandiri, mengurus semuanya sendiri, mengatur waktu sendiri, bisa yang sebenarnya gak bisa malah bisa, contohnya soal waktu.

Nanti deh aku ceritaan sendiri.

Ahhh, sudah deh bahas tentang waktu kesimpulannya, punya anak 2 harus tau memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Titik!

Lanjut,

Mau cerita sedikit tentang pengalaman lahiran anak kedua saya,


Adibah Ruby Paingngi ,

Sebelum pulang ke Makassar sebenarnya sudah niat ganti dokter kandungan, sebenarnya galau juga sih, dokter itu sudah memberi rasa kenyamanan bagi saya ‘halahhhh bahasanya :p, beberapa dokter yang saya kunjungi baik batam ataupun Makassar, dokter kandungan saya ini dokter yang paling sabar melayani pertanyaan-pertanyaan saya baik masuk akal maupun aneh menurut ahlinya. Tapi yah itu, saat pertama control ke dia usia 4 bulan kira-kira kandungan saya, beliau sudah mengatakan harus SC kembali karena dilihat usia jarak anak pertama saya. Nah semanjak saya pulang ke Makassar untuk persiapan lahiran, pertama yang saya kunjungi bukan beliau, saya ganti dokter yang pernah historynya punya pengalaman pasiennya berhasil VBAC padahal jarak dengan anaknya 18 bulan, kenapa demikian karena saya pengen sekali melahirkan dengan jalan normal. Makanya cari dokter yang siap melayani saya dengan semua kondisi saya. 

Pencarian berakhir saat kira-kira sebulan sebelum melahirkan saya USG 4D dengan dokter yang berbeda lagi, dan ternyata dokter juga menyarankan untuk melakukan SC kembali banyak pertimbangan, salah satunya resiko tinggi buat ibunya jikalau memaksakan untuk normal.

akhirnya, dengan banyak pertimbangan, saya dan suami sepakat untuk kembali ke dokter pertama yang bantu saya lahiran zaf, Insha Allah jikapun memang normal ataupun SC pasti dimudahkan jalannya, daripada nanti sayanya ngotot normal dan kembali SC dengan resiko bukan hanya psikis tetapi fisik yang saya tanggung.

Bismillah,

HPL sebenarnya jatuh tanggal 20 Desember 2015, tetapi ketika memasuki bulan desember terjadi pendarahan, sorenya langsung menghubungi dokter langsung via telepon dan beliau langsung menyuruh saya ke Rumah Sakit Sentosa. setelah VT, suster yang memeriksa menganjurkan saya langsung ketempat praktek beliau yang kebetulan memang dekat dengan rumah sakit. Setelah pemeriksaan dengan dokter, beliau memutuskan untuk memajukan tanggal rencana operasi saya dari tanggal 19 Desember menjadi tanggal 10, karena, kemungkinan besar dilihat dari plasenta normal, semua keadaan normal, dicurigai bekas operasi SC pada waktu zaf sudah meregang, mengakibatkan pendarahan. Untuk meminimalisir saya harus istirahat total menjaga setiap pergerakan saya supaya pada waktunya saya bisa di SC. 

Disatu sisi jika SC ditanggal 10 desember 2015, suami yang sudah tidak memiliki cuti di tahun ini, menganjurkan diundurkan ditanggal 11 desember saja, jadi suami tidak banyak mengambil ijin di kantor. Dan Ok. sayapun merubah tanggal menjadi tanggal 11 Desember yang kebetulan hari jumat.

Bedanya waktu zaf SC dengan kali ini, aku seperti gak tenang, kaki tangan serasa dingin, selalu curhat dengan kakak saya yang menyarankan selalu dzikir. Inilah yang dinamakan operasi direncanakan, beda waktu zaf yang datang hanya kontrol eh taunya disuruh langsung operasi. 30 menit kemudia lahirlah zafran. Beda dengan operasi yang direncanakan, saya sudah mengetahui kelak ini operasi, maka waktu yang lewat terasa lama sekali.

Sampai ketika ayahnya zaf menelpon : "Sayang saya dah di Bandara Makassar." dan beberapa menit kemudian dianya langsung ke RSB dan bertemu dengan saya. disitu perasaan agak sedikit tenang, tapi tidak membuat saya langsung beristirahat. Dokter mengatakan 05.00 sudah masuk ruang operasi, tetapi waktu menunjukkan jam 02 pagi saya belum juga tertidur.

pukul 04.00 saya dibangunkan, berusaha untuk mandi dan melakukan sholat shubuh. suster datang menjemput. seketika saya berada diruangan besar, dingin dan ditemani dengan beberapa suster yang berpakaian lengkap siap melakukan operasi. Datang dokter langsung menyapa. tapi tetap tidak membuat saya tenang. dan pada akhirnya ada perawat laki-laki yang memegang pundak saya dan mengatakan : "Ingat Baitullah!" dan seketika dokter langsung bertanya kesaya : "Siap ibu Lubnah, dimulaimi ini?" lalu senyum dan saya pasrahkan : "Siap dok"

Beda dengan zaf, ruby kali ini saya jalani operasi sangat cepat dan ringan, berangkali didukung dengan kondisi yang kecil dibanding zaf : Lahir dengan BB : 2,8 Kg dan PB : 47 cm.

Mendengar tangisannya, Alhamdulillah :')

Setelah itu saya masih 'fly', tersadar saya sudah tidak diruang operasi dan melihat suami datang ketempat tidur sambil mengecup kening, kedua mata, kedua pipi dan bibir dan melihat foto bayi kami yang berjenis kelamin perempuan.  Alhamdulillah Yaa Allah, Kesempatan ini diberikan lagi, dan amanahmu bukan hanya satu tapi sudah menjadi dua.

Sorenya baru saya diantar menuju kamar saya, dan menunggu bayi saya juga dan melakukan perlekatan pertama yang alhamdulillah berhasil tanpa lecet sedikitpun. Yah, saya belajar pada waktu zaf yang emosi saya tidak stabil, perlekatan pada PD saya berlangsung dramatisir, sakit sumpah! dan kali ini dari awal saya harus memperbaiki kondisi emosi saya, apapun yang terjadi tidak berpengaruh pada kondisi saya yang bertujuan suapay saya bisa dengan tenang menyusui anak saya kali ini. Dan Berhasil. Alhamdulillah.

Tapi tidak pada kondisi zaf yang memulai sikap cemburunya langsung pada saat itu. Zaf yang selama di RSB tidur sama Ayahnya di tempat tidur lain, dan saya bersama ruby. membuat rasa cemburu datang, menangis mendekat kesaya seperti nangis orang sakit hati tanpa mengeluarkan suara. Oh anakku, Gak apa-apa zaf. Kamu harus melalui proses ini, dan banyak lagi didepannya.

_________________________________________________________________________________

3 bulan lalu, dan saya mencoba mengingatnya untuk menulis di blog saya.
Dari Seorang bubun yang selalu berusaha menjadi ibu yang kelak dibanggakan anak-anaknya :)

Lubnah Lukman

3 komentar:

  1. Assalamualaikum bunda.
    Saya baca kisah. Sepertinya dokternya sangat bagus yah berpengalaman jg. Saya baru positif setelah nggu lama kehadirannya. Boleh mnta saran bun, dokternya siapa ? Truz rumah sakit mana yg bagus utk lahiran yg menerima bpjs.
    Terimakasih bunda.
    Semoga sehat selalu bersama keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam bunda...
      bunda tinggal dimna?? kalau dimakassar dokter saya, dr. rudi prakteknya jalan g. merapi.. kalau bpjs mending langsung ke siloam aja bund...

      Hapus
  2. Bund mw nanya...rumah sakit yang pro IMD dan pro ASI area makassar dimana yah bun? Kalo di dokter rudi biaya check upnya berapaan bun?

    BalasHapus