21 November 2016

22 November 2016

Assalamualaikum :)

Dia...

Iaa Dia..

Yang saya jatuh cinta kepadanya beberapa tahun yang lalu,
Yang saya pilih menemani sisa hidupku,
Yang saya jadikan ayah dari anak-anakku,
Yang tak henti-hentinya saya coba merubahnya, sejak hari pertama dia menjadi suamiku.

Dia,

Yang saya seret ke parenting event bersamaku,
Yang saya harapkan memiliki lebih banyak waktu,
 untuk sekedar bercengkrama denganku dan anak-anakku,
Yang sangat teramat sering saya limpahkan beban pengasuhan,
 di detik ketika sepatunya menapak depan rumahku.

Dia,

Yang saya harapkan agak lebih sedikit mirip dengan bapakku,
Yang saya ajukan metode-metode baru mendidik anak terkini,
Yang terkadang bikin aku keki dan kesal,
Yang kadang jika aku letih, piringpun dia cucikan.

 Pernahkah?

Saya menata hati biarpun hanya sedikit?
melihat dari sisi si dia yang begitu saya cintai?
walaupun dia tidak di rumah sepanjang hari,
kerjanya cukup menguras akal dan energi,
pantaskah saya meminta untuk menukar semua rutinitas ini dengan dia?
karena menurutku,
saya sudah letih sepanjang hari, anak yang coret sana-sini, 
celoteh sepanjang hari, rumah yang kotor setiap anak melakukan eksperimen, 
menaburkan makanan, mengganti baju sampai 5 kali,
Dan banyak lagi?

Dan saya mau dia paham untuk sekedar bertoleransi.

Tapi saya lupa, Ia juga manusi, ia letih,
Tahukah saya bahwa, mamanya tidak pernah membayangkan bahwa anak laki-laki sulungnya 
akan menjadi semandiri itu?

Tapi,
Zaman sudah berganti, laki-laki sudah bukan zamannya dilayani sepanjang hari.

Zaman ini adalah zaman dimana ayah di elu-elukan perannya dirumah untuk sang buah hati.
Zaman dimana ayah adalah faktor penentu yang penting dalam pengasuhan masa kini.

Tapi, Sekali saja
Pernahkah saya rasakan letihnya harinya?
Transportasi dari ke kantor untuk kerumah begitupun sebaliknya,
Pekerjaan yang tak kunjung habisnya?
Bos yang terkadang menjengkelkan,
Dengan pulang disambut dirumah dengan celoteh saya dan anak-anak,
Cerita bahwa saya tegang dileher dan pegal di kaki.

Tapi dengan setia menjadi pendengar yang baik,
membacakan buku cerita buat anak-anak,
bermain pesawat-pesawat dengan anak-anak,
rasa letih dia lagsung hilang sekejap.


Dia,

Juga manusia,
Juga lelah,
Juga butuh tarik nafas,
Juga pengen belajar pengasuhan, tapi jangan dipaksa,
Cara belajarnya beda :
Kata Mama saya : " Jika kamu berharap ia melakukan hal persis dengan dirimu, kenapa tidak kau pakaikan dia rok saja?...

Jleb,

Dia, Awaluddin Paingngi, yang tersimpan rapi di hatiku penuh cinta,
juga lelah sepertiku, namun tak ia rasa.

Kadang saya ingin mencoba merasakan 'memakai sepatunya', 
Agar saya bisa belajar sedikit bertoleransi, bertenggang rasa.

Dan saya percaya, Ia hanya ingin yang terbaik buat keluarganya. 
Yang Damai dan tentram oleh sabab itu ia sering mengalah.

Dan pada hari ini, di ulang tahunnya, saya hanya berkata :

"Selamat Ulang Tahun Cinta, Terima Kasih, sudah menjadi Ayah yang Terhebat sedunia! Sudah menjadi Suami yang penyayang dan super Siaga!"

Selamat Ulang Tahun Cinta.

Lubnah Lukman
Bubun dari anak-anakmu













*Puisi diatas bukan asli dari saya namun saya banyak edit hehe,
 sumber saya lupa, sudah lama saya menyimpannya untuk ucapan ulang tahun dia.

2 komentar:

  1. Deh so sweetnya tawwa 😊😇 semoga langgeng yah mba.amin

    BalasHapus