3 November 2016

Cerita dan Tips Membawa 2 Batita Naik Pesawat

Assalamualaikum :)

Assalamualaikum November..

Assalamualaikum Batam..

Yah hampir sebulan saya kemarin di Makassar, ketemu Mamak, bapak, teman-teman dan tentunya kulineran, waktu yang cukup panjang itu juga belum semuanya saya tuntaskan untuk rencana-rencana yang saya akan lakukan selama di Makassar, itu artinya saya masih disuruh pulang lagi entah kapan, doakan ada rejeki lagi yah. Sebanarnya masih mau semingguan sih di Makassar tetapi suami sudah ‘agak’ memaksa untuk segera pulang ke batam, doi kangen katanya :p

Rencana kemarin saya ke Makassar bertiga dengan anak-anak, tapi sepertinya suami masih meragu dengan ‘kenekatan’ saya untuk bertiga ke makassar, dan Alhamdulillah ada jalannnya, suami ada dinas ke Halmahera yang artinya harus transit ke Makassar dulu, nginap semalam di Makassar besok langsung meneruskan perjalanan ke halmahera. Dinas yang sekalian doi mengantar istri dan kedua anaknya untuk liburan hehehehehe


Makassar,

Kota yang paling saya rindukan, biarpun sekarang makin semraut lalu lintasnya, makin padat penduduknya, tetapi tetap ada daya tarik yang selalu membuat saya ingin pulang. Terutama Orangtua saya, Mama dan Bapak saya, keluarga besar saya, kulinernya dan masih banyak lagi. 3 minggu lebih waktu yang kurang untuk saya yang hobby jalan dan makan. Zaf dan Ruby juga begitu, sangat menikmati selama mereka di Makassar, sangat anteng jika kami melakukan perjalanan. Maka dari itu semua, saya berniat untuk pulang kembali ke batam hanya bertiga. Diluar memang suami gak bisa jemput pas waktu itu.

Karena Niat dan percaya,

Seminggu sebelum saya membeli tiket suami sudah berkali-kali bertanya, “Sayang, bisa jeki pulang bertiga dengan anak-anak?” “Sayang, atau ajak siapa gitu buat temaniki’!” “Sayang sanggup jeki itu?!” dan masih banyak lagi petanyaan-pertanyaan yang mengandung unsur meragukan saya jalan sendiri dengan anak-anak. Bukan cuman suami sih, mama, bapak dan kakak-kakak saya juga kurang yakin dengan keputusan yang saya ambil untuk pulang ke batam tanpa ada yang temani selain anak-anak. Tapi dengan begitu saya tambah semangat untuk realisasikan yang saya juga tidak yakin berjalan lancar, tapi kalau saya tidak melakukannya saya tidak tau juga saya bisa atau tidak. 

Yah Niat yang kuat, didukung memang suami gak bisa menjemput, gak ada kepikiran untuk mengajak orang untuk menemani saya pulang, saya hanya mau mengukur kemampuan saya, kemampuan anak-anak saya untuk tetap bertahan dengan segala kondisi yang ada. Tapi dengan Niat juga tidak cukup, saya juga harus lihat kondisi anak-anak saya, dan Insyaa Allah saya percaya dengan kemampuan zaf (35 Bulan) dan ruby (10 Bulan).

Tiba Hari senin jam 5 shubuh tanggal 31 Oktober saya sudah jalan ke bandara diantar dengan mertua tercinta, ipar-ipar saya dan keponakan saya. Saya hanya membawa 2 koper yang saya sudah bagasikan dan ransel merah yang saya bawa sampai ke batam didalamnya bekal makanan buat saya dan anak-anak, zaf menenteng ransel juga yang didalamnya perlengkapan pakaian dan popok buat mereka berdua, zaf sudah lama lulus toilet training sebenarnya tapi karena diluar kondisi saya memakaikan popok kembali agar saya gak repot ke toilet jika dia meminta buang air kecil dan besar. Sedangkan ruby, saya gendong di depan menggunakan gendongan.

Sebelum naik kepesawat ternyata zaf pup (ujian pertama) dengan cepat saya ke kamar mandi, membuka celana membersihkan pup dengan tissue basah karena jika menggunakan air saya cukup repot dimana ruby saya gendong didepan. Alhamdulillah selesai juga dengan keringat dingin saya hahahah langsung jalan cepat menuju gate 5 tempat pesawat kami parkir. Selama dalam pesawat Makassar – Jakarta hampir berjalan lancar, Zaf duduk di tengah dengan membuka meja didepannya, dan majalah yang ada gambar pesawatnya terbuka lebar dan hanya bertanya terus, atau jika datang makanan majalahnya doi tutup, siap makan sendiri begitupun ruby kerjaannya makan, menganggu kakaknya, ngacak sana sini, semua masih wajar. Yang bikin panik adalah 15 menit sebelum landing tapi bukan saya kalau tidak bisa mengatasi *yah ialah harus diatasi, kalau bukan kamu siapa lagi hahaha.  

Ruby yang saya ketahui, bangun jam setangah 5 shubuh belum mandi dan belum tidur kembali padahal jam sudah menunjukkan jam 8 pagi waktu jakarta, mulai rewel karena doi ngantuk berat, nenen gak mau, dikasih mainan gak mau, makananpun tidak mau, terpaksa saya berdiri untuk mengoyang-goyangkannya tapi tidak mempan doi masih menangis, saya coba lagi demikian, tidak mau, dan entah berapa kali detik saya biarkan dia menangis, lalu saya gendong-gendong lagi dan kembali duduk baru doi mau nenen dan terlelap. Disampingnya Zaf duduk di bawah, dan saya sudah mencium bau tidak sedap, saya mulai curiga kalau dia lagi buang air besar (ujian kedua & ketiga) hahahaha

Setelah penumpang turun semua, saya dengan berat hati menitip ruby di pramugari, rubynya menangis, tapi saya biarkan, bukan hanya karena saya membawa zaf ke kamar mandi pesawat, tapi saya bisa mendengar suara anak saya dari kamar mandi. Dengan cepat saya membersihkan celana zaf yang banyak bangeeeet, agak kerepotan karena air dalama toilet pesawat memang sangat sedikit, selesai itu saya pun berkesempatan buang air kecil juga hehehe

Dan karena kita bertiga kelamaan, kitapun ditinggalkan bus yang mengantarkan kita ke terminal transit (ujian keempat) kitapun lama tinggal di pesawat sambil menunggu busnya kembali datang untuk mengambil kami, yang ternyata bukan bus yang datang tetapi mini bus untuk penumpang vvip *horeeeeee

Sampai di terminal tujuan segera kami melapor untuk penumpang transit, langsung menuju gate, karena kita sangat awal sekali masih ada jeda 1 jam, saya mengajak zaf untuk membeli minuman diluar gate. asyiknya terminal ini ada playground yang keren buat anak-anak, dan zafpun meminta saya untuk kita singgah kesitu, melihat jam oke masih ada waktu. jelang 15 menit kita di situ panggilan sudah terdengar untuk penumpang pesawat batam. Sayapun membujuk zaf untuk sudahi permainannya. Baru kita memakai sepatu ada panggilan terakhir untuk pesawat kami (ujian kelima), sambil nama kami dipanggil-panggil, fikir saya sepertinya tinggal kami yang ditunggu, tanpa pikir saya berjalan cepat, sekali-kali berlari diikuti zaf dibelakang, yang sekali-kali saya melihatnya di belakang sambil berkata "ayooo zaf, ayooo nak, semangattttt!" hahahahaha

Dan betul tinggal kami yang ditunggu, langsung memasuki pesawat, langsung duduk, dan pintu pesawatpun segera ditutup hahahahaha selama di pesawat alhamdulillah lancar, begitu tiba makanan, zaf dan ruby langsung makan, setelah makan mereka berdua langsung tidur sampai kami tiba di batam. Nah, ujian terakhir yaitu ujian ke enam, zaf yang karena sangat mengantuk susah banget dibangunkan, sampai penumpang semua habispun zaf masih tidur, sayapun sedikit memaksa untuk menggoyang-goyangkan badannya baru terbangun. Nah terbangunnya itu karena doi masih mau tidur, doipun rewel, mau dipeluk, padahal ruby sudah nyaman digendongannya, hampir 30 menit membujuk anak saya ini, sayapun lihat kondisi karena dia rewelnya sudah diluar pesawat sayapun tunggu sampai perasaannya enak, saya tidak mau memaksa zaf, karena saya tahu perasaannya lagi tidak nyaman, saya malah sangat terima kasih zaf begitu saat sudah di batam. Saat sudah enak perasaannya, kamipun sama-sama mengambil bagasi kami dan ketemu dengan Ayahnya anak-anak, suami saya tercinta :* ending yang sangat manis hehe

Nah, karena saya sudah melewati membawa 2 anak balita saya mau memberikan tips-tips yang semoga bisa membantu :

1. Harus Yakin Bisa untuk jalan sama anak-anak tanpa ada yang bantu, dan tetap lihat kondisi anak-anak, apakah memang keseharian sudah bisa diajak kesana kemari. Atau bisa mencoba jalan kemana-mana dulu sama anak-anak, sekalian melihat cara anak mengatasi lingkungan yang dia temui di jalan. 

2. Setelah yakin dengan diri sendiri dan anak, barulah mencari tiket pesawat yang sangat nyaman untuk anak-anak, karena hanya suasana yang bisa membantu anda jika mengalami kesusahan. Kebetulan saya mencari pesawat yang mempunyai makanan dan monitor didepannya, berfikir supaya zaf bisa anteng depan monitor, tapi khusus untuk anak saya tidak terlalu memberikan efek karena doi memang tidak terbiasa melihat monitor, banyak diabaikan, doinya hanya melihat majalah yang didalamnya ada gambar pesawat. Kenapa saya memilih pesawat yang menyediakan Makanan?? supaya saya tidak telalu banyak membawa bekal untuk persiapan jika kami lapar, mengingat pesawat saya transit, dan panjang. hanya Ruby yang saya siapkan khusus makananya karena masih MPASI tapi itupun saya memilih makanan yang finger food gampang dibawah dan mudah ruby memakannya. Sedangakan Zaf cuman bekal makanan ringan, karena Makanan berat sudah ada paket dalam penerbangan :D

3.Setelah ada tiket, lakukan bonding sama anak-anak, banyaklah bercerita bahwa kita akan melakukan perjalanan panjang. Setiap saya ada waktu bertiga sama anak-anak, baik setelah membacakan buku atau hanya sedang makan bersama, selalu saja saya selipkan perkataan itu, dan kalau bisa tatap matanya. Sampai pada saat saya mau menaiki pesawatpun saya mensejajarkan tubuh saya dan tubuh zaf, berkata dengan menatap matanya. Kira-kira begini ceritanya : "Zaf, Ruby, Hari senin nanti kita akan ke batam ketemu ayah, hanya kita bertiga, bubun, Zaf dan Ruby, kita naik pesawat, transit ke jakarta lalu lanjut menuju batam, jadi kakak zaf dan ruby harus bangun shubuh, karena pesawat jadwalnya pagi nak" dan masih banyak lagi.

4. Membawa tentengan kalau bisa seminimal mungkin. Karena saya lebih nyaman menggunakan ransel tanpa tentengan, supaya kedua tangan saya bisa mengambil ini itu jika diperlukan dan memegang zaf jika lagi berjalan.

5. Jika memungkinkan kita bisa memilih tempat duduk saat kita chek-in. Pada waktu itu Makassar-Jakarta saya memilih teman duduk yang perempuan, tujuannya karena saya menyusui, ada perasaan lebih amanlah ketimbang lelaki yang sederet tempat duduk dengan kita.

6. Jika anak-anak kita rewel dipesawat, kuncinya abaikan pikiran dan lirikan mata sekitar, saya tau sekeliling tidak jadi nyaman, tetapi lebih mending perasaan kita jaga tetap tenang supaya fokus kepada anak-anak, perasaan kita nyaman, Insyaa Allah anak-anak juga nyaman. Dan rewelpun akan cepat teratasi.

7. Jangan sungkan untuk meminta tolong, tapi ingat juga yang kita minta tolongi siapa harus jelas dari luar. Kemarin aku terpaksa titipin ruby ke salah satu pramugari. Dengan cepat aku melihat namanya pramugari tersebut dan ciri-ciri yang paling khas pada mukanya, sebelum aku masuk ke toilet pesawat. Jadi kalau ada apa-apa saya minta pertanggung jawabannya. Lagian pramugari gak akan kemana-mana selain dipesawat yang kami tumpangi.

8. Fokus ke anak-anak, apalagi jika penerbangan yang transit, otomatis turun pesawat dan ke teminal untuk menunggu pesawat selanjutnya. Jangan sampai kedua mata ini lengah dalam perhatian ke anak-anak. Makanya saya lihat gadget hanya telpon Bapak dan Suami, sekali-kali update status, makanya dokumentasi selama perjalanan hanya satu foto hahahha

9. Tenang dan Berdoa ke Pada Allah SWT semoga diberikan kelanjacaran selama perjalanan.

Alhamdulillah, dengan pengalaman pertama ini saya bisa mengukur kemampuan saya dan anak-anak. Saya yakin membawa anak-anak liburan, adalah salah satu cara bagaimana kita mengajarkan mereka tentang kemandirian, menata hati jika ketemu dengan orang banyak, mengolah perasaan jika menemukan rasa ketidaknyamanan dan masih banyak lagi pelajaraan yang mereka temukan disetiap perjalanan, dan tentunya menimbulkan bonding yang sangat positif antara orangtua dan anak.

Lubnah Lukman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar