4 September 2017

Idul Qurban 1438 H


Assalamualaikum Wr. Wb.

Semingguan sebelum masuk awal bulan september adalah moment dimana bacaan zaf saya fokuskan ke perjuangan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, bukan semata-mata untuk anak-anak tapi pembelajaran utamanya terletak untuk keduaorangtuanya terkhusus saya sebagai ibunya.

Satu pertanyaan Zaf yang membuat saya harus mencerna baik-baik dan memberikan jawaban yang tepat namun sederhana untuk seumuran zaf. Kenapa Nabi Ibrahim membunuh anaknya bund? entah kesimpulan apa yang zaf peroleh sampai dia memilih kata 'bunuh' apakah zaf mengerti kata itu? kenapa zaf memilih kata anaknya dibanding menyebutkan kata Nabi Ismail?  Dan memang ada beberapa cerita yang saya angkat untuk kisah ini memakai kata 'bunuh'. Sepertinya timingnya pas ini untuk menjelaskan pertanyaan dan hikmah yang bisa saya ambil dalam kisah ini. biarpun memang anak dibawah umur 5 tahun memahami semua cerita masih dalam bentuk abtract. Sampai pernah saya menceritakan tentang kisah nabi ayyub yang memiliki tingkat kesabaran dalam menghadapi penyakitnya karena diuji oleh Allah. Alasannya karena saya mau menjelaskan tentang kesabaran untuk anak saya. Tapi malah bukan pertanyaan yang saya inginkan yang keluar dari bibir mungilnya malah pertanyaan abstract yang saya juga gak kepikir pertanyaan apalagi jawabbanya, duhhhhh.... Tapi untuk menceritakan tema kesabaran untuk anak dibawah 5 tahun adalah butuh perjuangan dan jangan memaksakan. karena balita itu belum mengerti arti sabar. Yang punya balita pasti paham nih hehehe Anak kalau sudah maunya, yah harus sekarang!!! hahaha


Lanjut yah....

Untuk jawaban saya untuk zaf saya skip dulu yah. karena sesungguhnya jawaban yang saya mau ucapkan kepada anak saya hanya bisa membatin dalam diri saya. Kenapa Allah menyuruh Nabi Ibrahim 'membunuh' Nabi Ismail padahal sudah jelas hubungan kedekatan mereka sebagai Ayah dan juga anak. Tapi dari kisah ini kita digambarkan sebagai Ibrahim dan semua yang kita miliki termasuk kekayaan, jabatan, keluarga, itu adalah ismail. Allah tak menyuruh Nabi Ibrahim membunuh fisik Nabi Ismail tetapi jauh dari pemaknaan itu, Allah menyuruh Nabi Ibrahim membunuh 'rasa memilik' terhadap Nabi Ismail. Karena hakikatnya semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Semoga kita dianugerahi oleh Allah Kesolehan seperti Nabi Ibrahim, dan keikhlasan seperti Nabi Ismail.

Ada banyak hikmah yang saya ambil dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Terhadap hubungan Ayah-anak, hubungan suami-istri, Anak dan orangtua, Menantu dan Mertua. 

Semoga Qurban dan teman-teman yang melakukan Ibadah Haji, diterima oleh Allah SWT. Aminn Yaa Alla.

Love from us

Awal. Unna. Zafran. Ruby.


2 komentar:

  1. kisah kisah nabi seperti ini bagus untuk tauladan namun orang tua harus pandai2 memilah ya mbak. nanti kalau mereka salah presepsi malah jadi bias

    BalasHapus
  2. Kisah yang sangat inspiratif. Kalau mau meneladani, kita bakalan selalu bersyukur dan tak 'rakus'

    BalasHapus