7 November 2017

Lego dan Rebutan Mainan #tantangan10hari #level1 #hari6


Assalamualaikum :)

Rebutan mainan siapa yang gak pernah mengalaminya? Gak ada kali yah, bisa jadi setiap orangtua yang mempunyai anak-anak mengalami pertengkaran tiap harinya, entah itu perbedaan pendapat atau rebutan dari hal pemilikan barang. Khusus anak saya yang masih 2 balita, tiap hari atau tiap bermain selalu saja berebut mainan. tapi karena anak balita egosentrisnya masih besar mereka selalu mengalami pertengkaran yang berujung menangis dan merajuk ke orang dewasa misal orangtuanya.

Saya tipikal yang betah melihat anak-anak bertengkar hahahaha, selama gak bermain fisik saya tidak lerai mereka, biarkan mereka mengatasi persoalannya sendiri, untuk zaf saya gak pernah mengeluarkan perkataan 'yang tua mengalah' dan untuk ruby karena masih kecil 'sang adik yang harus disayang dan menang' selalu yang saya bilang mereka tidak bertengkar, mereka hanya belajar hidup. Tapi jika sudah bermain fisik baru aku lerai. bukan untuk membenarkan atau membela salah satu pihak karena anak yang bertengkar sudah tentu dua-duanya salah. kenapa begitu? karena kedua anak yang bertengkar masih belum sanggup mengelola emosi dengan baik, akhirnya tindakan mereka keliru untuk mengekspresikannya. Karena ruby yang terkadang nangis duluan, saya kadang ambil dan tenangkan dulu. setelah itu saya ke kakaknya berkata, 'kok adek nangis nak? berarti adek gak nyaman mainannya direbut, sakit gak gak kalau mainannya direbut?' semua pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan tujuannya agar kedua anak saya belajar bahwa 'oh iya yah, sedih/kasihan adek/kakak kalau mainannya saya rebut tanpa permis'i. Setelah itu saling maaf-mafkan bukan sepihak yang minta maaf dan pihak yang lain memaafkan tapi harus keduanya meminta maaf, tujuannya agar mereka menimbulkan empati rasa sayang yang kuat antar keduanya.

Tidak terkecuali malam ini,
+ Bund, zaf mau main lego yah, boleh bund?
- Boleh sayang. bubun masak dulu yah.
 Adeknyapun ikutan main.

5 menit kemudian, pertunjukan saling rebut sudah memulai, hahahah 
Saya membiarkan terus sampai ruby datang mengadu ke saya sambil menangis.
+ Kenapa sayang?
- lego bund huuhuhuhuh
+ kenapa legonya?
- (dan menangisssss terus hahhaha)
+ Oke tarik nafas dulu dalam-dalam, hembuskan, (kadang saya ambilkan minuman, setelah tenang saya kembalikan ke aktifitasnya, sambil ngobrol dengan kakaknya)


- Zaf, kenapa tadi adek nangis nak?
+ Ruby bund, main saja ini, zaf yang ini, zaf dak suka, kalo ruby main ini, inikan lego mainannya kakak zafran.
- Ia ini mainannya kakak zaf. tapi sedih gak kakak zaf kalau lihat adek nangis?
+ sedih bund.
- Zaf sedih kenapa? (mengulang pertanyaan, supaya sugesti tertangkap)
+ sedih karena adek ruby nangis, zaf ambil mainnanya.
- Kalau gitu bisa gak kalau bubun minta tolong?
+ bisa.
- minta maaf masa adek, (diapun langsung cium kepala adeknya dan peluk)
-ruby juga minta maaf sama kakaknya ( cium pipi kakaknya)
- bubun senang deh kalau anak-anak bubun minta ijin kalau mau meminjam barang dan meminta maaf  jika ada yang salah.

Itu versi sederhananya hahahaha, tapi ada beberapa memang pertengkaran yang memang sudah ditingkat yang memang mereka saling mempertahankan ego masing-masing. saya masih bisa mengatasi kalau ini terjadi sama anak-anak saya. kadang saya mau terapkan jika anak-anak saya mengalami pertengkaran dengan anak oranglain, hanya kadang pola asuh tiap orangtua beda-beda jadi untuk khasus seperti ini, anak-anak saya yang kadang aku terpaksa lerai, mengambil dia ke tempat aman, menangis, pasti! tapi saya membiarkan dia menangis, selesai baru saya peluk dan saling mengungkapkan perasaan.

Lubnah lukman
Seorang Ibu yang masih terus belajar mengela emosi jika anak-anaknya belajar hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar