11 Januari 2018

Cerita Umroh Keluarga (Paingngi Family - 1)



Assalamualaikum,

Ketika dipesawat berganti dari batik ke pakaian ihram 
dekapan jantung semakin kuat,
menginjak ke jeddah, ruby yang kala rewel waktu itu belum apa-apa dijadikan ujian,
naik bus jeddah ke Mekkah, mengalir air mata sambil menyebut kalimat talbiyah,
Sampai ke Mekkah berjalan kaki menuju Masjidil haram dengan menggendong ruby,
dan tangan kita (saya dan suami) saling berpegangan erat,
sangat erat,
seakan kami malu tertunduk,
manusia hina ini terpanggil oleh Yang Maha Kuasa
Air Mata ini tak henti mengalir...
Sesak di hati...
Aku rinduuuuuuuuuu....

Seakan saya seperti 'pulang kampung'

kembali ke asal...
Sudah lebih sebulan saya baru bisa menulis dengan waktu yang panjang, berhubung anak-anak yang tidak tidur siang, maka tidur malam dipenghujung maghrib dan setelah itu saya punya waktu untuk menulis, bukan hanya waktu tapi hati dan rasa yang harus saya jaga untuk menulis cerita paling bermakna kami dipenghujung tahun 2017.

Bermimpi dan selalu diucapkan

Saya dan suami selalu punya mimpi untuk umroh sebelum suami berumur 35, setiap malam setiap waktu perkataan itu selalu kami lontarkan yah dengan berkata : 'Insyaa Allah ada malaikat yang men-Aminkan doa kita', saya yakin perjalanan ibadah apapun buka perkara materi, umroh pertama sayapun demikian, gak ada sepeserpun uang saya keluar untuk pergi umroh tapi ada saja materi itu datang dari arah yang kita tidak sangka, siang itu lewat teman kantor yang kebetulan mejanya bersampingan dengan saya berkata : 'un, siapkan paspor yah, awal tahun ini kita dengan rombongan pergi umroh' ahhhhh, menangis dengan hebatnya saya, dari situ saya punya pengalaman materi adalah point paling sekian jika kita berniat untuk beribadah, dari situ selalu saya yakinkan suami dan saya sendiri untuk selalu 'Memantaskan Diri'. Teringat orangtua saya selalu berkata 'Niatkan dan selalu berdoa untuk pergi haji ataupun Umroh' dan saya memang dari awal kami menikah target utama untuk bepergian jauh adalah pergi beribadah. Intinya mah, kalau memang udah takdir kita berangkat, dan kalau enggak berarti yah belum saatnya, Gimana Allah saja.




Doa Orangtua

Untuk Orangtua saya alhamdulillah sudah melakukan Haji dan Umroh, pernah saya becandaiin beliau, 'Pa Ma, mauki lagi umroh? Sama-samaki pergi' merekapun langsung menjawab 'Janganmi nak, mertuamu mo saja dulu kau berangkatkan' 
Dan memang suami dari awal menikah berniat kita gak umroh kalau orangtua beliau belum umroh, tapi aku pikir banyak kali pengeluaran kita kalau kita berangkat semua, dan itu saya cepat tepis dari pikiran, saya mengingat ibadah bukan perkara materi. 


Setelah itu ketika jadwal keberangkatan Umroh kami sekitar 2 bulan lagi, saya dan suami tidak henti-hentinya untuk meminta doa kepada Orangtua kami terkhusus Mama dan Bapak mertua saya, Semoga dilancarkan kita menuju Baitullah, karena saya yakin kekuatan doa Orangtua  karena jangka 2 bulan itu masih panjang masih ada yang bisa terjadi. Dan kamipun selalu menyimpulkan keberkahan kita, kemudahan yang kita jalani sampai selesai umroh ini tidak terlepas karena doa orangtua kita.

Zafran dan Ruby

Karena udah mantap membawa anak-anak, sayapun kala itu memberikan materi untuk zaf, zaf memang dari usia setahun udah saya ceritakan tentang syirah nabawiyah, mengikut ruby yang semenjak lahir sudah mendengarkan saya membaca buku syirah untuk kakaknya dan berlanjut sampai sekarang. Tapi untuk kali ini mata saya berbinar mengucapkan kepada anak-anak :

Z: Zafran
B :Bubun
B : Anakku, Zafran dan Ruby, Insyaa Allah dengan Izin Allah kita akan Ke Mekkah dan Madinah bulan November (sambil saya membawa dan memperlihatkan buku Mekkah dan Madinah)
Z : Bulan apa ini bun?
B : September nak
Z : (Diapun menghitung bulan) 2 bulan lagi bund.
B : Iee Nak (Sayapun bercerita tentang apa kelak yang kita akan kunjungi disana)

B : Nanti kita akan ke jakarta dulu sayang tanggal 27, setelah itu besoknya tanggal 28 kita akan naik pesawat ke jeddah di bandara King Abdul Aziz, selama hampir 10 jam lamanya, setelah itu sesampai kita di jeddah kita akan naik bus ke Mekkah.... (dan banyak lagi)

B : Kakak Zaf, adek ruby harus sehat sayang yah? Dengan Cara : Banyak Makan Sayur, Makan Buah, Makan Nasi, Tidur Siang itu penting sekali, Minum Madu.. oke nak?

Z : Oke bund (saling tos dan berpelukan kita)

Setiap hari selalu ada obrolan tentang perjalanan kami nantinya...

Setiap saya melakukan perjalanan sama anak-anak saya selalu sounding ke mereka, berusaha berkata jujur, mengajak kerjasama, memberitahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya, melibatkan di setiap keputusan, salah satu tujuannya adalah supaya mereka juga tidak kaget dan menikmati disemua kegiatan, dan hikmah yang dapat mereka petik bisa menjadi cerita buat tumbuh kembang mereka dan menjadi perekat lewat cerita anak dan orangtua. Dan saya yakin betapa banyak keuntungannya jika kita berani jujur dengan anak-anak, membuat kita dan mereka menjadi dekat bukan hanya sekedar kita bersama mereka dalam hal fisik tetapi pandangan mata, pergolakan emosi jika ada keputusan yang tidak sesuai dengan kita dan anak-anak, menyelesaikan konflik bersama, bercanda bersama, berkegiatan bersama, dan juga bersusah bersama.
Baca juga cerita : Tips Umroh Membawa Anak

November 

Hari yang ditunggu-tunggu semakin dekat, Persiapan seperti Koper dan perlengkapan umroh lainnya sudah di batam, dan untuk perlengkapan orangtua kita nanti di jakarta nanti diberikan, memang kita meminta itu karena jika dikirim ke batam semua memakan biaya dan toh gak terpakai, hanya seragam yang saya kirim ke makassar untuk orangtua, dan seragam suami dan anak-anak sudah ditukang jahit. Persiapan teknis alhamdulillah sudah 70 persen memasuki bulan November.

Tapi Saya, Suami dan Anak-anak lagi di uji, sebulan sebelum kami berangkat sampai 2 hari sebelum berangkatpun masih diuji, Zaf diare yang tak kunjung henti, tetiba diare dan membuat dia letih berhari-hari, dibawah kedokter dikasih obat pemulihan alhamdulillah sembuh, 4 hari kemudian kambuh lagi diarenya, begitu terus selama sebulan, dokter juga sempat pusing, menyuruh kami observasi dirumah apa yang membuat tetiba dia diare, padahal zaf ini makanannya dijaga karena memang jarang makan diluar, pemakan sayur, dan enak makannya, Makanya seminggu sebelum kita berangkat udah alhamdulillah gak lagi dan mempersiapkan obat ampuh diare yang memang dia cocok kalau tetiba dia diareh pas umroh (dan alhamdulillah gak terpakai selama disana), 2 hari sebelum berangkat zaf tetiba panas dan gondongan, Yaa Allah sempat kepikiran apa kita belum terpanggil atau gimana yah, kepikiran juga kalau mau berangkat lantas zaf tidak dalam kondisi fit begini. saya teringat pesan bapak saya :  Tanah Suci itu seperti Miniatur Akhirat, kadang kita dicuci dulu sebelum pergi ke sana dengan berbagai ujian agar menuju keikhlasan dan kesabaran diri, tanamkan dalam hati niat semata-mata hanya Ibadah bukan yang lain Insyaa Allah akan dipermudah dan ditolong oleh Allah. Dan Alhamdulillah lancar jaya, biarpun ada kerikil-kerikil kecil, adaaaa saja pertolongan Allah.
Foto ketika masih di bandara baru tiba dari Batam dan mertua baru tiba dari Makassar
Tunggu yah kisah selanjutnya di Bagian ke 2.

Lubnah Lukman

4 komentar:

  1. ada beberapa air yang ku tahan saat baca tulisan ini mbak unna
    ..........
    air dari mata dan air di tenggorokan

    BalasHapus
  2. Subhanallah. Tulisan ini yang aku tunggu-tunggu dari November. Agar menguatkan niat Dan keinginan until pergi ke Sana.

    Selalu seru dan terharu jika menyimak kisah perjalanan umroh dan haji. Ditunggu kelanjutan ceritanya.

    BalasHapus
  3. MasyaAllah..rindu juga ingin kesana.

    BalasHapus
  4. MasyaAllah, semoga Allah izinkan bertamu ke rumah-Nya. Aamiin

    BalasHapus