29 April 2018

Mama dan Hijab Saya



Assalamualaikum,


Jika aku diberikan waktu sekali waktu saja,

Ijinkan saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Ibunda saya 
atas hijab yang sekarang saya kenakan,

Jika dan memang waktuku sudah habis dengannya,

Ijinkan Hijab yang saya kenakan sekarang ini akan ku usahakan pakai dengan sempurna 
dan ku persembahkan kepada beliau.

Ketika Arisan Tulisan Rulis IIP BATAM bertema Cerita tentang Hijab, saya langsung kepikiran menulis tentang beliau, mama saya, salah satu orang dan yang paling dominan mengapa saya memakai hijab dan konsisten sampai sekarang ini. Ketika beliau sudah tiada di dunia ini setiap kali bercermin dan menggunakan hijab, saya baru sadar sejarah dari yang saya gunakan adalah mama saya, motivasi awal itu dari beliau, motivasi yang sebenarnya berawal dari keterpaksaan.

Keterpaksaan yang memang saya akui dari awal saya menggunakan hijab, 

bercerita sedikit,

teringat ketika masih kecil pakaian saya semua dijahitkan sama mama saya, bukan cuman saya ke empat kakak sayapun demikian, ketika sudah mulai sekolah setiap baju yang resmi entah dipakai keluar jalan-jalan, ke ulang tahun teman, atau sekedar mengunjungi keluarga, mama membuatkan baju lengkap dengan hijabnya. Betapa malu dan tak percaya dirinya saya memakai pakaian tersebut. Saya terlihat kuno, aneh, tidak modern bahkan saya sempat kepikiran ketinggalan jaman. Saking karena pemikiran negative itu mending saya membatalkan kegiatan ini dan saya tak jadi ke acara tersebut, karena dipaksanya saya menggunakan baju tersebut, dan mama gak membuka akses diskusi saat itu, sayapun ngambek tapi cukup dalam hati.

Buruknya lagi ketika di sekolah disetiap  hari jumat kita wajib menggunakan pakaian putih-putih muslimah, tapi disekolah tidak mewajibkan untuk memakai hijabnya, jadi banyak beberapa teman yang tidak memakai hijabnya, dan saya bagaimana? Sayapun demikian. Lepas dari bapak mengantar saya di depan gerbang sekolah berjalan sedikit mendekati pos satpam, saya langsung melepas hijab saya dan melipat sedikit lengan baju saya menjadi seperempat. Dan ketahuan? Pastinya, dan terjadilah mama yang sangat marah pada saya. 


Masuk SMP pun demikian, karena saya mengetahui pakaian saya kelak pasti menggunakan hijab sewaktu sekolah saya lebih memilih masuk ke pesantren yang tidak tinggal diasrama, yang waktunya sama dengan sekolah negeri lainnya tapi bedanya semua siswinya menggunakan hijab. Saat itu saya masih belum pede dengan pilihan mama bukan pilihan saya.

Ada yang bilang bahwa karena bisa karena biasa, dari awal mama lewat usaha dia menyuruh saya berhijab bukan membuka jalur diskusi tapi menjahit banyak pakaian muslim buat saya, jadi ada memang dari 3 tahun di SMP yang awalnya setiap pulang sekolah masih sering membuka jilbab, sampai saya dipaksa juga masuk dalam Organisasi Kepemudaan Muhammadiyah yang waktu dijaman saya bernama Ikatan Remaja Muhammadiyah, Berawal dari semua itu saya mulai ada titik merasa ada kewajiban memakai hijab biarpun bukan karena alasan dari 2 ayat di bawah ini :

QS. Al-A’raf: 26, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”
, tapi sebelum saya mencari ilmunya adalah malu karena gak enak dilihat Instruktur saya, lalu mengemban amanah karena begitu saya harus memberikan contoh yang baik buat orang diluar sana.

Dan berawal saya betul-betul hijrah pertama kali ketika saya kelas 1 SMA, mencari referensi lewat kajian dan pengajian dan yang utamanya keluarga saya tentunya, apalagi bapak saya yang memang paling enak diajak curhat mengenai persoalan sejarah islam yang menyerempet tentang hijab dan kakak perempuan saya beliau menjadi panutan saya dikeluarga selain mama saya. Betul disini karena setiap saya keluar rumahpun saya sudah tidak memperlihatkan rambut saya, semampu dan sekuatnya saya mengambil mukenah jika saya disuruh mama menyuruh saya memanggil penjual ikan atau sayur yang lari sepedanya sangat kencang, menyuruh saya untuk membeli sesuatu di warung, atau sekedar membeli tukang bakso langganan saya, jika gak sempat memakai pakaian utuh lengkap dengan hijabnya, ada mukenah yang siap di ambil :D Sudah muncul rasa malu keluar rumah jika tak menutup aurat.
Diwaktu itupun saya sudah percaya diri menggunakan hijab, membeli pakaianpun pasti gak ketinggalan hijabnya, dan sampai detik sekarang menulis tulisan ini saya sangat kangen dengan mama saya, rindu yang saya hanya bisa sampaikan lewat doa, bahwa saya masih berjuang untuk mu memakai hijab dengan sempurna, saya berterima kasih dengan keterpaksaan dengan banyaknya uraian airmata saya menolak dengan diam, menolak dengan cara sembunyi-sembunyi saya melepas lalu ketika sampai dirumah saya memakainya kembali seakan tidak terjadi apa-apa, tapi betul katamu hidayah itu tidak datang dengan sendirinya, hidayah itu harus diperjuangkan, kalau bukan dari diri sendiri minimal orang yang menyayangimu memperjuangkan kamu untuk bukan hanya baik dan benar didepan orang tapi baik dan benar di hadapan Allah. Karena sesungguhnya kata mama saya, yang benar dan baik memang sulit adanya karena ganjarannya adalah surga. Masyaa Allah.

Saya banyak belajar dari keterpaksaan itu bahwa setiap yang datang baik celaan, hinaan, pujian bahkan nasehat, terima dengan berbesar hati, jangan sampai menolak dan berkata buruk dengan penyampai pesan, jika memang yang disampaikan memang benar kenapa harus kita tolak kebenarannya, jangan melihat orang yang menyampaikan tapi lihat isi pesan yang disampaikan, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang tertutup hatinya oleh perkataan yang benar apalagi pesan ini bukan pesan dari manusia, tapi perkataan langsung dari Allah SWT bahwa menggunakan hijab bagi kaum wanita adalah wajib.

Terima Kasih mama, 

Yaa Allah....
Mama saya adalah Ibunda yang sholehah,
maka ku mohon haramkan neraka baginya,
Dan terimalah semua amal perbuatannya,
Amin Yaa Rabbal Alamin..

Al-fatihah 

Mama, semoga kita bisa bertemu
ditempat dan waktu yang Insyaa Allah baik. Amin.


Lubnah Lukman
Seorang anak yang merindu 

4 komentar:

  1. Masyallah Mb Unna.
    Beruntung banget ya punya orang tua yang sadar kewajiban anaknya.
    ngiri deh !
    semoga alm Ibu mb unna dijauhkan dari siksa kubur dan masuk syurga tanpa hisab ya.
    aamiin

    BalasHapus
  2. Semoga Ibunda mendapat tempat terbaik di sisiNya...
    Semoga kita bisa Istiqomah ya mba dan memberikan yang terbaik untuk orangtua kita😘

    BalasHapus
  3. kenangan indah ... kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja... apalagi perihal mama yang luar biasa

    BalasHapus
  4. Mama mbk Unna luar biasa sekali,,memperkenalkan dan memperjuangkan anak nya unt terus berhijab.

    BalasHapus