Top Social

#Mamaksetrong4 - Pentingkah Asisten Rumah Tangga (ART)?

19 September 2018


Assalamualaikum,

Seorang wanita yang telah berkeluarga mungkin pernah merasakan jika dia bangun diwaktu shubuh hari, dia bisa merencanakan kegiatan mulai detik itu sampai seminggu ke depan bahkan bisa lebih dari itu :D, benar gak sih? kalau saya sih yes :D apalagi saya tim oret-oret (coret-coret) yang apapun harus ditulis, mungkin semenjak jadi Ibu yang kerja di ranah domestik banyak yang bikin susah fokus untuk menyelesaikan yang sebenarnya prioritas malah jadi sekunder, timbul dimalam hari penyesalan tiada akhir, beresiko ke suami yang harus menerima celotehan sang 'ratu' rumah yang berkewajiban mengeluarkan minimal 20ribu kata setiap harinya :D

Hampir 2 bulan di kota pahlawan ini, kota yang sebenarnya gak terlalu asing bagi saya tapi gak pernah kepikiran untuk stay di sini, berniat sungguh-sungguh untuk mencoba tidak memakai jasa Asisten Rumah Tangga bermodal semenjak batam saya dan anak-anak diskusi tentang ini termasuk bagi tugas dan trik agar ini tidak memberatkan masing-masing pihak :p atau lebih tepatnya mengerjakan tugas dengan senang, sukarela dan bahagia :D cita-cita yang indah bukan, terus gimana hasil selama di surabaya? berjalan lancar kah? *ketawa nynyir*

Saya cerita dulu situasi yang di batam sampai saya dan suami mengambil pilihan yang menurutku keluar dari zona nyaman kami khususnya bagi saya dan mungkin anak-anak. 

Selama di batam saya mempunyai ART yang biasa kami sebut dengan sapaan penuh hangat 'Bude' seorang wanita kuat yang sehari bisa 3-4 rumah beliau datangi untuk menyelesaikan tumpukan kerjaan, salah satunya rumah saya. Yah bude seorang ART 'part time'. Beliau menjadi solusi setiap saya kewalahan dalam kerjaan domestik termasuk 'menyetrika' sebenarnya saya lebih memilih menyetrika ketimbang masak, tapi untuk urusan masak saya bisa sambil membacakan buku anak-anak atau sekedar bermain sambil saya memasak, ataupun urusan masak-memasak kadang selesai sebelum suami ke kantor, tapi lebih utamanya sih, suami lebih menyarankan untuk urusan masak sang Ibu yang turun langsung. Beda dengan menyetrika yang menurutku harus tingkat fokus lebih tinggi, gak mungkin dong saya membacakan buku buat zafruby sambil menyetrika, bisa jadi listrik kemahalan saya bayar karena banyak banget jeda waktunya atau ke'hangusan' :p dan itu pernah terjadi hiksss

Jadi Bude hanya datang untuk beberes setelah anak-anak beberes mainannya, makan siang dan masuk tidur siang, dan bude datang untuk mengerjakan semuanya termasuk menyetrika, mengepel dan sebagainya. Dan selesai rumahpun kembali menjadi 'rumah' saat sore dan kadang saya tidak bertemu dengan beliau. Sabtu-Minggu Family time waktu yang kebanyakan diluar rumah jadi waktu free juga buat bude.

Ada satu pernyataan Zaf yang disitu berawal jika kami pindah lagi saya tidak memakai jasa ART lagi, apa itu?

Kan Ada Bude bund!

Zaf setiap selesai makan udah tau tugasnya untuk mencuci piring tapi jika datang gak mood atau jika membereskan mainan dianya dalam kondisi emosi yang tidak stabil, kata-kata itu selalu muncul 'Kan ada bude bund' Padahal selalu saya katakan bahwa kita harus berterima kasih dengan adanya bude karna bisa meringankan tugas-tugas bubun, dan waktu bubun akan lebih banyak bermain buat zaf dan ruby.

Saya mungkin agak khawatir jika zaf dalam kondisi nyaman, tanpa pernah tahu 'nyaman' itu apa dan bagaimana proses dalam mendapatkannya. Karena dengan itu tercipta rasa syukur atas nikmat kemudahan yang datang oleh Allah lewat bantuan orang lain. Nah disini saya bisa masuki salah satu tentang pengajaran 'Fitrah Keimanan-Nya'

Homescooling 

Sekolah yang berbasis keluarga bagi kami adalah mulai bagun tidur sampai mata tertutup adalah pelajaran dan siapapun yang kami temui adalah guru. Termasuk anak-anak kami mereka sebenarnya guru kami dan bisa menjadi partner belajar kami. Zaf yang belum mau sekolah otomatis saya dan suami membuat kurikulum berbasis rumah yang mengangkat salah satunya tentang 'ADAB' adalah pelajaran utama dan penting. Berat kami ajarkan buat anak-anak karena disini bukan diajarkan tapi diteladankan, otomatis orangtuanyapun masih terus belajar tanpa henti.

Kembali bahasan ART dengan Hs sendiri adalah kami bisa ambigu menyampaikan tugas-tugas domestik zaf jika ada yang membantu diluar TIM (bubun-ayah-zaf-ruby). Sempat terlontar pernyataan zaf lagi 'Masak bubun dibantu saya tidak' yah menurutku bisa benar karena gak ada istilah tugas saya lebih berat ketimbang tugas kamu. Ada lagi 'kan jika gak cuci piring zaf kan ada bude, padahal bubun bilang selesaikan kerjaan zaf sendiri' disini juga saya gak tau mau utarakan sikap saya seperti bude gimana hahaha, satu sisi bude mau menyelesaikan pekerjaannya tanpa ada tersisa disisi lain bude juga bingung dengan 'perintah' saya. Dan ada lagi 'Bubun bilang gak ada yang beresin mainan zaf kalau bukan zaf sendiri, tapi sudah bersih sama bude pas zaf bangun tidur siang' kan akunya jadi serba salah juga hahaha.

Ada banyak pelajaran yang akan kami sama-sama belajar jika pekerjaan domestik kami kerjakan sendiri. apalagi jika kami mengerjakan bersama-sama tapi dengan tugas masing-masing. Salah satu cara membuat kerjaan domestik itu dibuat semenarik mungkin adalah membuat se-profesional mungkin kerjaan yang kesannya sederhana dibuat semenarik mungkin dan memberikan penuh tanggung jawab ke zaf.



Apa yang saya kami dibuat adalah kesepakatan sama zaf dulu, dengan ini saya hanya mengingatkan dia jika ada yang terlewat atau memberikan semangat bahwa dia adalah seorang manager (yang fungsi seorang manager kami sudah sampaikan sebelum list diatas dibuat)

Alasan dari semua ini sampai kita buat list masing-masing tugas, tidak ketinggalan Ruby pun juga kita buatkan dan diapun setuju-setuju aja karena memang dia belum paham sih, beda waktu zaf yang sangat alot membuat kesepakatan hahaha, karena rencana tak memakai ART saya aplikasikan waktu itu sudah berjalan 2 minggu pasca sampai ke batam, ternyata tak seindah rencana :(

Tak Seindah Rencana :(

Ternyata diawal saya keteteran, menata rumah dari nol lagi, melengkapi perabot dari nol lagi, mengatur ritme waktu domestik, main sama anak-anak, belajar berbagai Whatsapp Grup, Menulis, Ngobrol serius dan ngalur-ngidul sama suami, Baca Buku bahkan ngatur kegiatan main anak plus menu makanan semingguan dan lainnya butuh perjuangan keras bagi saya, apalagi tugas domestik suami yang kita atur kebanyakan ditakeover sama saya dan anak-anak karena jadwal ritme kerja suami lebih padat dan kencang di sini. Tapi apakah saya menyerah, semoga tidak! Kiatnya apa? sayapun menulis plus-minus menggunakan jasa ART agar bisa diingatkan jika saya berniat angkat bendera putih tanda menyerah :D

Apa sih keuntungan dan kekurangan jika saya tidak menggunakan jasa ART :

  1. SUAMI jadi turun ikut langsung terjun bebas dalam kerjaan domestik. setidaknya kalau memang tidak minimal ngajak bermain anak-anak setidaknya metime kita untuk menyelesaikan kerjaan domestik atau sekedar menyelesaikan tugas perkuliahan diberbagai sekolah online saya. 
  2. Anak-anakpun gak ada alasan 'orang ketiga' untuk membantu mereka menyelesaikan pekerjaan domestik. Yang ada 'Zaf enak tak kalau kamarnya bersih?' atau 'Terima kasih nak sudah bantuin bubun' bahkan dia bangun melihat kamarnya masih berantakan karena tidak mau membersihkan mainan-buku-eksperimen yang zaf-ruby buat. 
  3. Sayapun tambah terpacu untuk terus upgrade diri. hanya ada pilihan saya terperosok jatuh dengan kebablasan saya atau bangkit mengatur dengan giat waktu dan seabrek kegiatan. Satu slogan saya kalau saat begini : 'Masak orang lain bisa saya tidak?!' 
  4. Anak-anakpun jadi lebih mandiri karena kami sudah mengatur jobdesk buat semua anggota keluarga. 
  5. Saya, suami dan anak-anak jadi bisa lebih memaknai waktu, menghargai waktu dan bisa belajar bersama anak-anak tentang waktu serta membangun karakter lewat kerjaan domestik yang tiada akhirnya padahal dikerjakan berulang-ulang.
  6. Ada banyak diskusi, kegiatan, berbagai peran dan konflik yang akan kami bicarakan dan kerjakan otomatis akan ada bonding yang lebih erat antar kami. 
  7. Menjadikan rumah betul-betul tempat belajar dan berkekspresi, terkhusus suami sebenarnya risih jika ada orang lain dirumah selain keluarga tentunya.  
  8. Kamipun bisa mengatur sistem dan aturan-aturan yang berlaku di dalam rumah kita sendiri. 
  9. Memaksimalkan kemampuan diri masing-masing karena gak ada lagi perasaan 'Ahh gampang, kan ada bude!'
  10. Dan tentunya hak ART bisa dialihkan ke pos lain yang lebih membutuhkan :D

Jadi, Masih pentingkah Asisten Rumah Tangga?

Sampai sekarang belum, dan Insyaa Allah saya bisa bertahan. Tapi dengan itu saya harus siapkan beberapa rumus agar tetap kokoh dan kuat dalam menjalani hidup bagi 'Quda' :
  1. Tentukan dulu misi-visi kalian dalam hal kerjaan, Misal : mungkin sang 'ratu' kerjanya di publik yang harus tetap membutuhkan ART atau kerja domestik yang sebenarnya bisa mengindari penggunaan ART atau ada alasan lain sampai akhirnya membutuhkan ART. Dan ingat misi-visi kalian bicarakan dengan keluarga jangan masing-masing. Jika kedepannya ada konflik bisa diselesaikan bersama.
  2. Membuat list kerjaan dan siapa-siapa yang bertaggung jawab dan evaluasi.
  3. Bikin Jadwal yang ketat. Jadwal gadget sampai jadwal mengerjakan pekerjaan domestik.
  4. Bikin list kerjaan prioritas setiap harinya. centang jika selesai. kalau bisa tulis di papan whiteboard supaya aksesnya mudah untuk melihat sebagai pengingat.
  5. Jikalau sudah bosan dan capek banget, biarkan atau berhenti sejenak. Jangan dipaksa. Tetap bahagia jika pekerjaan domestik belum beres dan rumah berantakan. :D
  6. Usahakan kerjaan masak-masakan sebelum anak-anak bangun tidur sudah kelar. Terutama di pagi hari.
  7. Miunum cukup air 8 gelas/hari. Mamakpun butuh sehat dan fit untuk mengurus keluarga.
  8. Jikalau lapar makan, diet dengan cara menunda bisa jadi histeris menemukan makanan.
  9. Makan di saat jadwal makan biarpun tidak lapar.
  10. Salurkan emosi negatif dengan berceloteh hanya pada suami tidak pada anak-anak atau kembangkan hoby misalnya saya : menulis blog, setelah menulis ada rasa puas aja dan lega melihat hasil karya tulisan mamak yang baru menyelesaikan ngepel, nyapu dan cuci piring hahah
Liat juga tulisan tentang Asisten Rumah Tangga #mamaksetrong


  
 Semoga rencana-rencana yang kami putuskan dan lakukan bisa memberi pelajaran berharga untuk kami khussnya sebagai orangtua dan anak-anak. 
Tidak ada hal hasil yang sia-sia jika dilakukan prosesnya secara bersungguh-sungguh.
47 komentar on "#Mamaksetrong4 - Pentingkah Asisten Rumah Tangga (ART)?"
  1. Aku ada buat jobdesc juga buat Aal kayak gini. Zaf pernah ogahan ngerjain jobdesc nya ga bun?

    BalasHapus
  2. Aku pun sekarang ngga pakai ART Mba...dinikmati aja ya Mba. Dan kolaborasi sama Suami dan anak-anak

    BalasHapus
  3. keren banget mb, tugas anak diketik rapi dan ditempel begitu. inspirasi buat besok kalau anak udah gede, maklum saya tim ibu tanpa ART hehe

    BalasHapus
  4. hihihi sampai diketik tugasnya apa aja. Emang asisten rumah tangga itu kalau lagi hectic rasanya mau punya deh. Tapi kalau gak ada juga masih bisa kelar kok kerjaan domestik

    BalasHapus
  5. Aku belum ngerasain jd ibu. Tp tulisan ini jd ngebayangin gimana dlm situasi ga punya art.

    BalasHapus
  6. keren kk zaf toys manager hehe
    saya butuh banget kak ART di umur2 abangzam n maraja ini huhu tapi pagi-siang ji ini ART ku jadi kalau malam tetap saya yg ambil kendali juga hehe
    mau ah coba coba juga menerapkan ke duozam sistem beresin masing2 apa2 yg sudah dipake

    BalasHapus
  7. Saya bukan tim pemuja ART, hahah..
    Soalnya pengalaman waktu kecil di rumah ortu pake ART, saya jadinya males2an dan jadi kewalahan sendiri tanpa ART karena gak terbiasa kerja. Tapi lama-kelamaan malah enjoy dan putusin gak mau pake ART. apalagi type saya yang sering keluar rumah, hang out dan traveling. ART mau ditaro di mana? Masa ikut traveling juga? Hahaha..

    BalasHapus
  8. Mbaaaa,Surabaya-nya dimana?
    Setuju banget, kadang ketiadaan ART mendorong kita untuk terus upgrade skill ya....
    Makin efektif makin efisien mengerjakan pekerjaan rumah :)

    BalasHapus
  9. wooow Mbak, atur jadwalnya keren doong yah, bahkan jadwal gadget pun dibuat segala, mantap deh.

    saya juga sebenarnya nyaman tanpa ART, lebih ke butuh yang bantu jagain Adek aja klo pas sayanya kerja, klo di rumah lagi ya kerjaan sebisa mungkin saya yang handle, apalagi soal masak, pengennya menyuguhkan hasil karya Ratu untuk seisi rumah, biar kata itu lagi itu lagi :D

    BalasHapus
  10. Saya sejak kecil sampe nikah dan punya anak usia 6 tahun ini belum pernah merasakan pake asisten rumah tangga, jadi semua dikerjakan sendiri

    BalasHapus
  11. Dulu saya dididik m orangtua untuk gantian bertugas, saya tugas pagi dan kk saya sore untuk beres-beres rumah, tapi saat ingin mencontohkan pada anak kok susah ya gatol.

    BalasHapus
  12. Semoga rencana berjalan sesuai harapan ya, Bubun. Kalau diriku sama sekali ga bisa lepas dari ART karena harus keluar rumah untuk mengais rejeki hehehee... Mungkin nanti kalau sudah agak besar baru bisa lepas ART ya, ga perlu ada yang nungguin lagi di rumah.

    BalasHapus
  13. Aku dari dulu gak ada ART, semua kerjaan domestik ya Ibu, anak-anak perempuan. Maunya kalau udah berkeluarga nanti ya saling berbagi tugas, suami, anak juga bantu. Taoi urusan nyetrika, aku butuh banget bantuan. Gak tahan kalau nyetrika lama-lama

    BalasHapus
  14. huhu mantul banget ini mba ga pake ART bisa kompa begitu aku masi masuk tim pake art ga bisa lepas hahhaa karena kulelah tydack bisa beresin rumah sendirian hehehe

    BalasHapus
  15. Sebenernya penting klo buatku. Tp udh lama gk oake ARat krn alasan budget

    BalasHapus
  16. Saya sempat pakai ART setahun terakhir ini, tapi ternyata gak cocok. Jadi kembali tanpa ART. Kerjasama ma suami dan anak-anak biar pekerjaan rumah jadi lebih ringan

    BalasHapus
  17. Impian saya sejak awal menikah adalah memiliki ART, biar bisa leha-leha hehehe... Tetapi nyatanya sampai hari ini, anak-anak sudah besar saya tidak punya ART. Bukan karena tidak mau tetapi tidak sanggup bayar bhahaha... Kehidupan ini keras kawan.
    Saya dan si Ayangbeb memutuskan, daripada bayar ART lebih baik uangnya digunakan untuk sekolah lagi. Akibatnya, kami keteteran dengan masalah domestik. yah resikonya itu saja sih.

    BalasHapus
  18. Kl sebagai wanita karir lbh baik ada ART aplg kl anak2 masih kecil2. Tp kl sdh agak besar sambil mengajarkan sikap ttjwb, krjasm dlm keluarga dimulai dgn tanpa ART dooonk.

    BalasHapus
  19. aku lagi mikir-mikir untuk ga pakai ART karena anak udah 6 taun dan bisa diajak kerjasama. tapi ada rencana nambah anak lagi lha nanti pasti keteteran kalo ga ada yang bantuin

    BalasHapus
  20. Semnagat Mba, kamu bisa kok tanpa ART. Saya juga nggak pake ART :)

    BalasHapus
  21. Kok mirip Kak, aku juga baru pindah rumah dan hubby ga mau pakai pembantu lagi. Masih adaptasi nih sama kewajiban baru cuci piring dan cuci-jemur-nyetrika baju. Berjuang sama-sama Kak :)

    BalasHapus
  22. Semangat Mbak. Saya sih terbantu banyak sama barang elektronik seperti microwave yang bikin kerjaan lebih ringan

    BalasHapus
  23. Salam Ibu Profesional.
    Dan mashaAllah...semangat luar biasa mba Lubna.
    Semoga banyak Ibu yang terinspirasi.

    Karena saya pribadi, masih belum bisa tanpa ART.
    Bisa karena biasa itu benar adanya.

    Padahal kalau ART pulang saat lebaran, kami kompak mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi begitu lebaran beres, kehidupan kembali normal.

    BalasHapus
  24. Wah mantap deh usahanya untuk mengajarkan kemandirian ke anak. Dinamika selalu ada. Yg penting tetap semangat ya!

    BalasHapus
  25. Saya ngga pernah pakai ART sih, Mbak.. Capek, iya.. Kalau cucian udah numpuk tapi saya belum ada tenaga untuk mengerjakannya, ya laundry aja.

    Anak saya masih kecil-kecil, sih. Tapi pengen deh saya kasih tugas kayak Mas Zaf juga. 😊

    BalasHapus
  26. Dulu waktu jadi karyawan dan Yasmin, putriku masih balita pernah pakai ART.
    Namun setelah itu tidak lagi karena susah-susah gampang ya cari ART ini ^^
    Apalagi setelah stand by di rumah.
    Tak terpikir lagi pun punya ART.
    Hitung-hitung jadi aktivitas fisik harian seperti, mencuci manual terutama untuk 'jeroan', mengepel dan naik turun tangga saat menjemur pakaian.
    Walhasil, berat badan juga jadi ideal, sepanjang usia ^^.

    BalasHapus
  27. Banyak sekali cerita tentang ART, pentingkah, dramanya apa, butuhkah, masing masing orang beda ya Mbak. Like me too, saat saya bekerja di luar rumah, tentu butuh. Saat saya sudah resign, saya antara butuh dan ndak butuh. Ada plus minusnya juga tuh, saat saya di rumah dan tep ada art, lah kok saya merasa ada di zona yang nyaman banget, kan malah bahaya yak. Kalau anak anak, sejak awal sudah saya ingatkan utk tidak tergantung pd siapaun, tmasuk orang tua, dalam hal pribadi mereka. Mandi, makan, ambil baju, beberes mainan dan mengambil barang. Saya kok pingin ngerjain sendiri, tanpa ada pihak ke tiga di rumah. ingin mengerjakan sendiri, handle sendiri sebisa mungkin. Alhamdulillah anak anak dan suami mendukung dan membantu. Yah, mungkin pd saatnya nanti kalau pas butuh banget, mungkin bisa ada art lagi. Jd kalau saya pribadi, ada art penting saat dibutuhkan. Dan menjadi gak terlalu penting kalau ndak terlalu butuh, heheeee.

    BalasHapus
  28. Awal lepas dari ART memang masih terasa capek tapi nanti lama2 terbiasa asal diturunman standar kebersihan dan kerapihan rumahnya hehe

    BalasHapus
  29. Sama Mba, apalagi aku belum ada momongan yang perlu beberes mainan mulu hahahha
    jadi mesti bagi tugas juga sama suami, kalo suami yang lupa tugasnya akunya ngomel wkwkkw seru ya Mba berumahtangga itu

    BalasHapus
  30. Kereen mba Unna !
    Nanti akan ketemu ritme yang pas.
    Aku jg dulu awal2nya keteteran.
    Tp makin lama makin nyantai krn sudah tau ritmenya.
    Semangat !

    BalasHapus
  31. Salam kenal, Mbak. Iya sih kalau udah bisa bagi tugas dengan anggota keluarga, pekerjaan domestik terasa ringan. Tinggal konsisten dengan tugas masing-masing aja.

    BalasHapus
  32. Di rumah nggak ada ART, Mbak. Semua dikerjakan bersama.Aku pun ngajar di sekolah, ya, peran serta suami dan anggota keluarga yang lain memang sangat kuandalkan. Tanpa mereka, dada goodbye deh.

    BalasHapus
  33. Saya butuh ART utamanya saat anak-anak masih bayi sampai usia SD. Supaya saya bisa fokus pada hal-hal yang bisa dikerjakan sendiri juga yang bisa dikerjakan bersama anggota keluarga yang lain. Anak tetap diajarin beberes mainan sendiri dan barang-barang pribadi juga disiplin waktu. Buat saya sebagai emak yang punya anak kembar sangat penting menjaga mood tetap stabil, sehat, happy yang berpengaruh untuk keluarga. Tapi tentu masing-masing rumah punya pendapat dan aturan masing-masing kaan.

    BalasHapus
  34. Aku masih nyaman gak ada ART sampai skr, Allhamdulillah sampai anak2 udah SMP skr bis adihandle. Tapi semua balik lagi pada kebutuhan masing2 keluarga aja ya

    BalasHapus
  35. Sejak nikah nggak pakai ART, padahal dulu kerja, apalagi sekarang sudah jadi IRT full kayaknya babay deh ART hehehe

    BalasHapus
  36. Wah keren sekali tulisannya... minimal buat saya bisa jadi contoh kalau sudah punya keluarga sendiri.. ^_^

    BalasHapus
  37. Salut sama pemerapan manajemennya Unna. Moga konsisten

    BalasHapus
  38. Kalau aku untuk saat ini belum begitu penting pakai ART karena suami di rumah masih mau bantu-bantu :)

    BalasHapus
  39. Saya juga tanpa ART mbak di rumah, semua saya kerjakan sendiri bersama anak anak dan suami. Capek sih, insyaAllah jadi ladang pahala ya

    BalasHapus
  40. wah keren deh mbak pembagian waktunya, saya nggak pernah punya pengalaman dengan seorang ART jadi kebiasaan kerja sendiri dari dulu

    BalasHapus
  41. Jadi ingat awal nikah tanpa ART dan menempel kegiatan harian di dinding, pas aku lahiran datang teman-temanku eh malah diketawain sebel dan kezel banget hiks...

    BalasHapus
  42. No.4 tulis prioritas..sudah kutuliskan teruusss anak2 ngajak main ga mau kalo ga sama umi. Terus kelewt satu. Seleai main anak tidur siang umi ikutan ketiduran.

    No.8 hahaha itu mah mba una banget. Kalau aku tukang ngemil sengaja sedia coklat sekotak selesai nyuci piring ngemil duduk dl. Selesai ngepel ngemil lg huahaha.

    BalasHapus
  43. Klo melihat alinea terakhir tulisan ini rasanya gk perlu lagi deh hehee... pekerjaan sudah aman semuanya tuh jika konsisten. Lagian dengan kerja sendiri dirumah bisa lebih akrab dg keluarga dan insya allah byk pahalanya

    BalasHapus
  44. kren euy kak ,,, bisa di tiru

    BalasHapus
  45. Hehehe sy termasuk IRT yg "anti" ART karena memang punya prinsip my home is my home... Memang jasa ART sgt diperlukan apalagi ketika repot urus anak dan kerja, cuma pertimbangan pertama kami adalah takut urusan internal rumah jadi keluar (trauma punya ART yg ember... Duh, hal kecil di rmh pun ampe diomongi ke orang... Hiks.. Hiks... Hiks...)

    BalasHapus
  46. Wah udah pindah ke Surabaya toh! Menurut saya mending semuanya diurus keluarga. Anak-anak dilibatkan sejak dini dalam urusan rumah tangga supaya terbiasa mengurusi keperluannya sendiri, bisa mandiri!
    Btw, cek-cek, kok cuma saya ya cowok komen di sini!! lol

    BalasHapus
  47. ada job desk bisa mendidik anak2 disiplin n mandiri juga ya

    BalasHapus

Auto Post Signature