Bijak Menggunakan Gadget

15 Februari 2019

Assalamualaikum :)

"Bubuuuunnnn, bund dimana?" teriak zaf anak pertama saya

"Disini nak, dikamar mandi, bentar yah!"

Saat itu saya dikamar mandi bukan untuk buang hajat atau ritual apapun itu, tapi ngecek kerjaan melalui hp, ngecek grup wa, belajar lewat hp, semenjak serius untuk bekerja dan belajar dari rumah, saya harus pintar-pintar atur waktu tapi tetap komitmen dengan suami bahwa jangan sampai gadget selalu terlihat sama anak-anak, karena komit sama anak-anak gadget akan diberikan di 12 tahun mereka, kitapun orangtuanya harus komit akan itu. Dan akhirnya jalan satu-satu untuk ngecek handphone jika urgent itu di kamar mandi atau di ruang setrika hahahahah 

Begitulah dinamika atau lebih tepatnya tantangan jika memilih kerja dari rumah, baik ibu yang kerja diluar rumah sama-sama memiliki tantangan. Tapi enaknya seorang ibu yang kerja dirumah bisa lebih fleksibel dalam memilih kerjaan dan tetap bisa bersama anak-anak. tapi  kadang gadget bisa menjadi bumerang buat kita seorang ibu domestik yang ingin tetap membersamai anak sekaligus kerja dari rumah. Kenapa menjadi bumerang? kadang bisa terlena bahkan mengenakkan, ibu yang jiwanya ada didalam rumah tapi ruhnya entah kemanagara-gara ngasik berselancar handphone


Gadget itu apa sih?

Gadget sebenarnya berasal dari bahasa inggris yang berarti gawai, adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Perbedaan gawai dengan teknologi yang lainnya adalah unsur kebaruan berukuran lebih kecil. 

Nah gadget itu sendiri yah berupa handphone kita yang kita pakai sehari-hari untuk banyak manfaat tapi jika tidak digunakan bijak malah mendatangkan musibah.

Minggu lalu saya diminta sharing tentang gadget terhadap anak-anak dirumah di salah satu komunitas buibu, memang dari awalnya saya bilang ke teman bahwa bukan membawa materi  yah ini semua hanya sharing pengalaman saya aja untuk menyikapi gadget di rumah bukan berarti apa yang saya lakukanpun betul karena aturan tiap rumah masing-masing berbeda sesuai kebutuhan anak-anak dan para kedua orangtua.


Gadget dan Anak
Mungkin para orangtua sudah paham akan kebaikan dan keburukan gadget sendiri, gadget sendiri memang sangat amat bermanfaat bagi anak-anak, ada para orangtua yang berkata bahwa dengan gadget anak saya bisa cepat berbicara, mengenal warna, mengenal berbagai profesi, mengenal beberapa lagu-lagu, bisa cepat berbahasa Inggris dan keuntungan yang lainnya, tapi ternyata disisi lain kebaikan ada keburukannya yang bisa sangat fatal dalam aspek tumbuh kembang anak.

Apa itu?

Menurut kesimpulan saya dari beberapa seminar yang saya ikuti, ada beberapa diantara dampak buruk tentang gadget :
  • Internet adalah salah satu pintu untuk masuknya informasi baik dan buruk, sedangkan sang anak bisa menjadi korban dalam kejahatan yang berkeliaraan dinternet yang belum ia ketahui, apalagi jika menonton tv dan memegang gadget tanpa ada pendampingan
  • Mempengaruhi perkembangan otak anak, apalagi jika diberikan dibawah 2 tahun.
  • Kadang dengan adanya TV dan gadget anak-anak jadi malas untuk bergerak mengakibatkan sistem motoriknya jadi sangat lamban
  • Karena waktunya banyak di depan TV atau memegang gadget, maka bisa mengganggu perkembangan kesehatan mental dan sosialnya. Dari pakarpun menjelaskan jika anak yang sudah kecanduan dengan gadget akan susah bersosialisasi dengan baik.
  • Karena ketergangtungan dengan gadget membuat anak susah mandiri dalam mengatasi masalah termasuk masalah emosi
  • Bisa jadipun anak bisa lamban dalam berfikir.
Itu mungkin sebagaian keburukan gadget pada umumnya jika sang orangtua tidak bijak dalam memberikan waktu yang pas sesuai umur dalam menggunakan gadget.

Bukan hanya dampak buruk yang didapat anak tapi juga orangtuapun jika tidak menggunakan waktu gadget dapat mengalami waktu yang sia-sia tanpa ada manfaat, termasuk dulu saya salah satunya selalu menunda-nunda waktu sholat diawal waktu :(

Nah dari pengalaman dari saya selama ini memang kami, saya dan ayahnya anak-anak ketika saya sedang hamil zaf memang mengambil keputusan untuk meniadakan saluran TV dan pegang gadget didepan anak-anak (kecuali jika penting, termasuk angkat telepon) apalagi memberika gadget ke anak-anak yang belum memasuki usia 12 tahun.

Otomatis dengan keputusan ini, saya merasa keluar dari zona nyaman saya, zona dimana biasanya waktu sebelum punya anak, gadget menjadi barang wajib ada ditangan dan membuat setiap waktu mengecek, untuk ayahnya mungkin masih bisa leluasa karena selepas dari pagar rumah dia sudah bisa leluasa memegang hp beda dengan saya yang mungkin hanya tidur anak-anak baru bebas me time dengan gadget :p

Seusia zaf, selama 5 tahun lebih kebiasaan itu kami pakai dan alhamdulillah zaf merasa cuek jika ada saatnya saya sibuk dengan hp dengan urusan tertentu selain memang karena saya minta ijin sama dia kalau bubun mau ngecek sesuatu entah balas sms, cek email atau yang urgent, tapi ini hanya berlangsung 10-15 menit saja selepasnya kadang kebanyakan saya ngecek dibelakang mereka atau menunda sampai mereka tertidur, saya sangat menikmati waktu bersama mereka, tanpa gadget dunia saya dan anak-anak sangat efektif melakukan apapun itu termasuk membaca buku.

Membuat Jadwal Harian

Nah untuk menciptakan kewarasan saya, jadwal harian saya selalu buat, ini sebenarnya baru konsisten di 2 tahun terakhir ketika saya mengikuti kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional, bahwa mendampingi anak adalah sebuah kegiatan yang dituntut maksimal bukan disambi menggunakan kerjaan lain, termasuk memagang gadget.

Jadi Jadwal harian secara umum saya buat disertai banyak catatan heheh, catatan ini kadang berupa kerjaan yang prioritas atau kerjaan yang jika tidak penting bisa ditunda, atau catatan catatan pendukung dalam menyiapkan kegiatan bersama anak-anak. Tapi dengan itupun banyak kecolongan karena memang waktu bagi saya yang kerja domestik seakan tidak cukup untuk melakukan banyak kegiatan, tapi dengan menyusun jadwal ini sangat membantu saya dalam beraktifitas dan pastinya lebih bersyukur bahwa saya tidak melakukan aktifitas yang sia-sia selama seharian.



Jangan Pelit dengan Allah
Ini sebenarnya judul tulisan yang saya dapat dari mba Rika Satriani ketika saya curhat tentang mumetnya saya dalam hal domestik yang tak ada habis-habisnya, tulisan yang membuat saya berpacu untuk mencoba apakah betul jika kit tak pelit sama Allah, Allah akan membantu kita dengan tangan-tangan-Nya dalam menyelesaikan apapun itu.

Pelit disini diartikan sebagai pemakaian waktu kita untuk beribadah, memang dasarnya Allah tuh gak butuh ibadah kita, malah kita yang sangat butuh terhadap Allah dengan cara Ibadah. Saya memulai dengan sholat diawal waktu biar sedikit asal perubahannya bisa konsisten, sholat yang hanya wajibnya saja saya tambah dengan sholat sunnahnya, tilawahpun yang biasanya hanya beberapa menit saya tambah dengan setiap selesei waktu sholat biarpun memang hanya beberapa lembar, waktu ketika mengerjakan aktifitas domestik biasanya kepikiran dengan kerja apalagi setelah ini seperti berburu waktu diganti dengan banyak istighfar, yang biasanya jika waktu me time dengan gadget saya pakai dengan stalking tiada arti saya ganti dengan stalking akun akun yang penuh manfaat biar ketular siraman rohaniyahnya  dan beberapa Ibadah lainnya yang sekarang masih saya perjuangkan. Alhamdulillah dengan bersungguh-sungguh mempersiapkan waktu Ibadah hanya kepada Allah, waktu yang secara logika sebenarnya berkurang karena dipakai ibadah malah terasa longgar, perasaan tenang, bahkan gak terburu-buru, start syukur saya malah banyak dan itu membuat ketenangan yang tak terkira, Mungkin inilah jawaban dari kepikiran melihat-ibu-ibu yang mempunyai banyak anak tapi hafalan qura'annya pun jalan, berbagi ilmu ke masyarakatpun juga jalan, plus domestik mereka lakukan sendiri, Masyaa Allah. akan ada tangan-tangan Allah yang siap membantu tanpa kita minta jika Ibadahpun kita maksimalkan. Ini kesimpulan dari tulisan yang diberikan mba rika ke saya yang membuat saya merubah semua pandangan saya tentang gimana menyikapi waktu yang tak pernah cukup.


Bismillah, Semoga kita para Ibu semua bisa menjadi para Ibu milenial yang tetap aktif menggunakan gadget tapi penuh manfaat tanpa amalan yang sia-sia. Aminn

Post Comment
Posting Komentar

Auto Post Signature