Training Enlightening Parenting (part 1) : Ketika rencana menulis semua ilmu jadi buyar

8 April 2019

Assalamualaikum,

Ahad malam, 7 April 2019 (setelah pulang dari training)

Dijemput dengan ayah awal dan anak-anak, tau diri kalau tadi pagi gak nyiapin ransum buat seharian meninggalkan mereka bertiga di rumah :D yang awalnya capek banget mau pulang tapi harus menemani mereka makan malam. Ehh, akhirnya gak jadi, zaf kala itu ditanya ,

'Zaf lapar sayang?'
'Gak bund'

Alhamdulillah dalam hatiku, lalu suami langsung bilang kita langsung pulang kalau gitu.

Baru 5 menit nyampe di rumah, zaf langsung komentar..

'Zaf sepertinya lapar bund'


Aku kala itu biasanya meringis dalam hati 'Yaa elahhh kenapa gak bilang dari tadi nak, kan bisa singgah kita, dirumah gak ada apa' tapi ku skip dan langsung datang ke zaf.

'Zaf mau makan apa? gojekin aja atau giman?'

'Zaf lihat di kulkas ada telur bund, itu aja kok'

Masyaa Allah, jam 10 malam zaf makan yang ayahnya gorengkan karena saat itu ujian pertama sudah mulai, Ruby tetiba tantrum pemirsah :')

Ceritanya, Ruby lagi pengen ganti celana pendek, pergi ambil celana sendiri ke kamar, gak nemu yang dia inginkan, dia mengeluh katanya gak ada, sayapun datang ke kamarnya, mencoba ngobrol untuk menawarkan dia gimana kalau mengganti dengan celana yang lain, belum selesai penawaran saya, emosi dia makin meninggi, Subhanallah, ku coba menerapkan tips dari ibu okina (sedihnya saya lupa) LUPAAAAAA...  pakaian yang masih lengkap dengan jilbab bahkan ranselpun lupa saya simpan membuat makin lengkap capeknya ditambah kondisi ruby yang seperti ini. 

Mencoba beberapa teknik walau tak sempurna hasilnya gagal, mungkin memang kondisi saya yang menolak untuk berusaha, saya cuman tersenyum menemani dia merengek, yahh senyummm, biasanya muka saya datar aja, tapi ini senyum, yang membuat ruby makin aneh, awalnya makin kenceng nangisnya, sayapun makin lebar senyumnya, semakin menjadi-jadi rewelnya, senyum sayapun ku sangat lebarkan, karena tenaga saya cuman bisa dipakai dengan senyuman.

dia pun tiba-tiba meminta dipeluk sambil merintih.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Senin pagi, 8 April 2019 
3 minggu lalu memang sudah jadwalin kalau hari ini adalah jadwal kontrol untuk saya ke dokter kandungan, seperti biasa saya memang selalu ngobrol sama anak-anak sebelum kami keluar rumah. Tapi kali ini saya menyebutnya BRIEFING (Salah satu pengejaran yang saya dapatkan setelah training EP 'Briefing & Role Playing) 

Setelah sarapan, di meja belajar (sekalian meja kerja kami + meja makan :p) sayapun memanggil mereka. 

'Zaf, Ruby sini dulu sayang, kita briefing?'
Zaf yang paling semangat menghampiri saya lalu bertanya, 'Hah apa itu bund?'
'Briefing seperti pengarahan sayang, seperti kita membuat kesepakatan seperti dulu-dulu, tapi sekarang kita menyebutnya briefing. Oke?
'Oke bund'

.....Sayapun menceritakan rencana saya, apa yang akan kita temui disana, dan menyarankan respon perilaku zaf-ruby yang bagusnya seperti apa, lalu saya tanyakan jika ada yang mereka dak sepekati atau ada yang mereka tambahkan atau kurangi, setelah semua sepakat, kitapun DEAL lalu bersalaman :D lalu melakukan ROLE PLAYING,

Mungkin saya dan suami sudah sering menerapkan seperti ini tapi tidak se-profesional seperti ini, hanya sepihak, jika deal, kita lanjut, jika tidak tetap cari kesepakatan, tapi konsepnya tak seperti ini, apalagi menggunakan role playing yang membuat anak-anak seperti main permainan yang menantang nan seru :D perbedaannya saya lihat direaksi anak-anak, mereka seperti terhipnotis dengan moment pagi tadi, dan apa yang terjadi dengan hasil Briefing dan Role playing kali ini. 

BERHASIL pemirsah :D

Sekali-kali saya ingatkan, zaf-ruby 'ingat briefingnya tadi pagi sayang' merekapun menjawab 'Ohh iaa bund, siappppp' 

--------------------------------------------------------------------------------------------

Mungkin diatas adalah salah satu dan akan banyak lagi cerita yang akan saya rekam bersama anak-anak bahwa mulai hari ini, Bubunnya Insyaa Allah akan jauh lagi lebih baik, Insyaa Allah, biarpun saya yakin, perjuangan itu gak gampang, gak mudah, semakin bertambah ilmu pasti cobaan akan datang terus-menerus, tapi itulah nikmatnya belajar. Dan bagaimana semangat dan terhipnotisnya saya ikut Training Engligtening Parenting bersama Ibu Okina Fitriani dan Tim.

bayangkan saja, melihat gerak tubuh, mimik, bahasa Ibu Okina membuat saya tidak banyak menulis padahal saya tipikal suka menulis biar tak dilupa maklum otak ini terlalu banyak memori, tapi rasanya mengedipkan mata saja saya bahkan rugi untuk tidak melihat apa yang ibu okina dan Tim sampaikan.

lebay...

Ohh maaf, Tidak sama sekali,

2 bulan lalu saya yang dapat info tentang training ini, yang awal awalnya mau daftar bersama suami, tapi tau diri dengan durasi waktu training yang seharian kita mau nitipkan kemana anak-anak, keluarga satupun tak ada, suami terutama yang tak mau banget menitipkan anak-anaknya ke daycare, akhirnya suami yang mundur dan mempersilahkan untuk saya duluan, akhirnya daftar berujung waiting list beberapa minggu dikabarkan lagi oleh mba fira bahwa saya bisa mendaftar jadi peserta penuh, bukan main senangnya saya. Sebulan sebelum trainingpun saya ngobrol dengan anak-anak tentang rencana saya ini, maklum emak jarang meninggalkan anak-anak bersama ayahnya, dan sayapun selalu mengingatkan suami untuk tidak ada jadwal apapun di tanggal tersebut, sehari sebelumnyapun saya siapkan ransum buat mereka yang ditinggal 2 hari penuh. 

bahwa nak, bubun me time dulu....

2 Hari berturut-turut, yang awal paginya sempat telat karena saya salah masuk hotel dan membuat saya berjalan akhirnya saya telat 40 menit pemirsah (deket padahal hotelnya dengan hotel yang salah turun saya heheh, tapi karena bada ini so berat banyak cari tempat duduknya lalu lanjut jalannya :D), Rugi dan malunya saya kala itu masuk ke ruangan dengan sudah berjalannya materi.

Mengatur nafas, mengatur tempat duduk, tapi tetap aja dudukan saya gak nyaman karena sudah masuk diusia kehamilan 9 bulan, tapi tidak membuat saya keletihan mendengar Ibu Okina membawakan materi pertama yang dulunya cuman pandang di buku beliau atau di Instagram beliau, lalu sebelum masuk ke hotel bisa lihat lebih dekat di spanduk training, lalu sekarang berdiri di depan saya, dengan semangat yang luar biasa dan mimik yang tak kalah ekspresifnya. Aku sampe terbayang sama anak-anak dirumah, mungkin seru juga kali yah jika saat saya mendongeng, gerak tubuh dan mimik saya seperti ibu okina ini, pasti lebih seruuu dan apa yang saya sampaikan bisa masuk ke memori anak-anak. Ahh Ibu, belum beberapa menit saya duduk sudah ada ide bermain buat anak-anak. (bisa jadi anak-anak mukanya datar, karena saya berceritapun biar kata-katanya semangat tapi mimik tidak diseimbangkan, hahahhaha)

Lanjut,

Saya menuliskan rasa saya selama 2 hari ini bukan materinya, karena materi terlalu berat saya paparkan, saya takut sharing karena sayapun belum banyak mengaplikasikannya, tapi yang saya ingin ceritakan adalah 'rasa' saya hadir di training ini. Selanjutnya mungkin akan saya berbagi, Insyaa Allah.

Diantaranya, Saya Merasa gak ada batasan antara peserta dan tim Sharing, Ini yang membuat saya nyaman berada di sekitaran lingkaran mereka, kita mau curhat, mau sharing tentang anak-anak dan suami, tentang luka hati yang sampai sekarang belum disembuhkan, atau apapun yang ingin kita ungkapkan mereka ada siap menjadi pendengar dan menyarankan solusi. 
Terkhusus : 
Ibu Okina : memberikan ruang untuk dirinya siap untuk didekati lalu ditanya, Senang rasanya, yang dulunya saya kira akan susah berduaan dengan bu okina sharing lebih dalam ternyata bisa tapi sayangnya gak puas :( plus Ibu Okina ini selalu memberika jawaban singkat yang solutif. Masyaa Allah, Saya yang heran dengan jawaban sederhana tapi gak kepikiran banget. Sampai beberapa detik saya melongo kepikiran sesederhana itu kah? tapi hati kecil saya berkata 'Yeaaahhh, itu jawabannya Unna!! kunci itu!!'
Ibu Juliana Dewi : Yang keibuan dan ngangenin membuat saya nyaman dengan situasi yang kompleks saya bercerita dengan beliau, pengen lebih banyak bicara tapi waktu tak banyak bersama beliau (semoga berjodoh lagi kita mba untuk ketemu, dan ku tagih janji mba iwed kemarin, :D ) Sayapun penasaran dengan kesabaran beliau menghadapi suami Pak Akang.
Mba Elfira : (aku sampai takut loh nulisnya hehe) Sosok wanita yang kuat, punya prinsip, tegas, tapi ada magicnya loh hehehe, serius! mungkin karena apa yang beliau sampaikan dengan penuh semangat ada ruhnya karena memang mba elfira melalui semuanya, tapi karena ada beberapa penyampaian yang mba fira menyampaikan dengan bahasa jawa yang jujur aku gak mengerti, hiksss. Pengen tak sampein langsung sekalian curhat tapi mba fira selalu tak pernah kosong akupun melipir cari yang lain atau sekedar duduk merefresh materi yang juga hanya sebentar karena materi selanjutnya siap diberikan lagi.
Pak Akang Sutedja : Belia suami dari Ibu Juliana Dewi, badan kekar tapi sebenarnya gak sangar kalau cerita sekarang katanya sudah insyaf, tapi ketika saya mendengar cerita dulu sebelum mengikuti training EP saya bayangkan dengan tubuh dan tampang pak akang yang sangar itu betul-betul menakutkan banget, saya aja dengar ceritanya tanpa kedipan mata seperti melihat hulk, kisah yang mungkin saya gak pernah bayangkan ada dikehidupan nyata, ternyata ada yang pernah alami seperti demikian. betul ketika beliau mengatakan '16 tahun saya sudah mendzalimi istri dan anak-anakku' tapi sekarang saya melihat beliau seperti seorang ayah yang mengayomi, suami yang menentramkan dan seorang kepala keluarga yang begitu maksimal menjalani perannya.

Ini hanya sebagian kecil dari Tim Sharing yang mengagumkan, ada banyak lagi, termasuk yang ku follow di Social Media mereka, Masyaa Allah, membaca sharing-sharing mereka aja seperti menentramkan jiwa dan diajak berfikir 'bahwa hidup hanya sesederhana itu' tapi dibarengi dengan niat yang kuat, dan pastinya latihan berkali-kali, jatuh berkali-kali.

Ini mah gak sederhana unna? 
Jatuh berkali-kali itu kamu bilang sederhana un?
Latihan yang terus-menerus kamu bilang sederhana?

Yah, mungkin kali ini saya bisa bilang 'karena kamu tidak mempunyai data yang spesifik'

bukan kata saya, itu kata Ibu Okina.

yang mungkin mulai hari ini saya akan mencoba dengan cara itu, mencari data sebanyak-banyaknya, biar apa yang selama saya katakan negatif berubah menjadi positif, dan semuanya akan terlihat lebih sederhana menyelesaikan, hemat emosi dan waktu dalam menyelesaikan.

Dan satu yang saya fokus dengan training ini, Jangan memnuntut lingkungan kita akan berubah, respon orang kekita akan berubah, suami bahkan anak-anak kita berubah, kalau bukan di mulai dari diri kita sendiri. Secara tidak sadar memang dari dulu saya akui itu, tapi di training ini menjelaskan secara detail setiap teknik untuk mengolah emosi diri sendiri, fokus pada diri sendiri, jangan memikirkan orang dulu, selesaikan urusanmu dulu sendiri, semuaaaaaaaa tentang diri sendiri..

Dan ternyata secara garis besarpun, sayapun tak tahu diri saya sendiri :(

Ahhhh, Ibu Okina pulang dari kemarin sayapun memeluk ibu dengan erat, begitu banyak amal jariyah ibu yang terus berjalan, bayangkan  dari saya pribadi yang menemukan bahwa ada titik sudut pandang saya yang harus dirubah tentang apapun itu, termasuk pola pikir, emosi, dan sebagainya yang terpusat ke pendidikan parenting. Ini baru saya ada banyak manusia yang lain yang terbantukan dengan Ibu tapi tetap dengan Ijin Allah.

Terima kasih Ibu dan Tim, Semoga kita kelak akan bertemu dilain waktu yang lebih baik dari sosok saya yang sekarang ini. Amin Allahumma Amin.

Doakan saya bu, biar tetap Istiqomah dalam menjalankan peran ini dengan sungguh-sungguh.

Bismillah...................

(Kisah akan berlanjut di postingan selanjutnya....)


29 komentar on "Training Enlightening Parenting (part 1) : Ketika rencana menulis semua ilmu jadi buyar"
  1. Alhamdulillah.. senangnya baca tulisan Mbak Unna. Aku baca bareng si Akang, dia ngakak ngakak di bagian "Hulk"��������. Btw, Mas Ronny Gunarto kok belum ditulis kesannya, mbak?������

    BalasHapus
  2. MashaAllah sampe mengedipkan mata aja rugi ya mbak, saking kerennya Bu Okina dan tim menyampaikan materi. Alhamdulillah, meski telat tapi gak mengurangi kekuatan bumil jalan kaki ke hotel. Emak strong !!! hehe. Teringat mba Unna cerita disuatu event betapa senangnya dapat seat kelas EP. Semoga semangatnya terus membara yo mbak *akupun :)

    BalasHapus
  3. Huhuhuuuu...
    Sungguh ku envyhhhh...

    i need this saaayy ������

    Semoga berjodoh dengan training selanjutnya.

    makasih udah berbagi sedikit ceritanya, means a lot buat saya momsay.

    daaann cuman bisa bilang salut banget padamuuuhh ������

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw tanpa ikut training ini, saya kagum loh ama usaha terbaik mom Lubnah ama suami dalam berusaha jadi orang tua yang baik.
      saya jadi terinspirasi dengan sharing2 mom Lubnah dalam menghadapi anak.

      Dan emang ya, salah satu kunci keberhasilan orang tua adalah kerja sama suami istri yang kompak :)

      Hapus
  4. Intinya kita harus 'menyelesaikan' diri kita sendiri dulu ya? Jadi ntar saat menghadapi suami, anak-anak atau bahkan orang lain, reaksi yang kita berikan sudah bisa kita rencanakan dari dalam diri, gitu kah?

    BalasHapus
  5. Prinsip saya adalah "Happy Mom, Happy Family." Quote yang terinspirasi dari film Rio 2. Tetapi, memang untuk menuntut perubahan, harus dari kita dulu. Makanya saya pegang prinsip seperti itu

    BalasHapus
  6. Aku liat di IG mba una ihh mupeng banget mba una. MasyaAllah 2hari tuntas ya ikut trainingnya. semoga ilmunya bisa ditularkan ke kami yang masih banyak kurang ini. Semangat menanti hpl yak

    BalasHapus
  7. Setuju pakai banget sama Chi, "Happy Mom, Happy Family"
    Tak mungkin bisa membahagiakan orang lain kalau kita sendiri belum bahagia

    Yup, setuju (lagi) kita kudu "selesai" dengan diri sendiri dulu!

    Aku pun harus masih banyak belajar, lagi dan lagi!

    BalasHapus
  8. Ternyata training enlightening poarenting itu penting agar hidup kita dan keluarga bisa lebih baik. Bagaimanapun, ilmu parenting tetap dibutuhkan oleh para ortu apalagi sesi kelas berbagi itu bisa menghimpun motivasi kita agar jadi pribad yang lebih baik, mampu mengangkat semua luka agar tak berdampak buruk pada keluarga.
    Semoga tetap bahagia dan harmonis, Mbak. Jadi mom yang sabar memang tak mudah tetapi harus diupayakan.

    BalasHapus
  9. Ya ampun memang bener banget mbak, kalau menuntut lingkungan berubah, malah makin memperparah emosi loh. Saya sudah mencoba untuk mengatakan jangan meminta lingkungan yg berubah, Alhamdulillah pelan pelan emosiku mulai dapat terkendali, ndak pernah meletup letup

    BalasHapus
  10. Perubahan bis adimulai dari diri kita sendiri ya mbak gak menuntun lingkungan bener banget. wah makasih banget aku sudah diingatkan kaya gini. DItunggu sharing selanjutnya ya mbak di postingan

    BalasHapus
  11. Kadang kita memang butuh training yang bisa mensupport ya. Karena mendidik anak itu ada ilmunya juga. Nice sharing ya mbak. Ditungggu lanjutannya

    BalasHapus
  12. Asiknya bisa ketemu dengan orang tua yang menyenangkan dan bisa berbagi ilmu. Kalau memang tentang anak kudu belajar terus ya mbak. Senang dengan kalimat harus menyenangkan diri dulu dalam arti saya berdamai dengan diri maka bisa memaklumi kondisi anak-anak.

    BalasHapus
  13. Yah Mbak... kok tulisannya bersambung... Padahal aku udah penasaran, sebetulnya acaranya ini seperti apa? Dan saya pun jadi penasaran dengan Bu Okina. Kayaknya tadi sore deh sempat pbaca di IG-nya Mbak Anggraeni Septi yang nyebut nama Bu Okina juga. Aku tunggu tulisan lanjutannya ya Mbak...

    BalasHapus
  14. Aku salut banget sama kamu hamil tapi masih mau ikut acara seperti ini.
    Pasti ilmu yang ada di sana banyak banget ya Mbak. Menarik banget sharenya

    BalasHapus
  15. Ruby umur berapa Mak udah bisa ditinggal 2 harian gitu?

    Seru ya acaranya. Penuh dengan ilmu pengetahuan.

    BalasHapus
  16. huaa beruntungnya bisa ikut ini mba. aku sering baca tulisan okinaf dan dewi sutedja ttg parenting dan marriage life di ig :)

    BalasHapus
  17. Wah keren nih mbak pelatihannya. Jadi tertarik buat nyari info lebih banyak. Mau ikutan juga ah kalo ada yg dekat

    BalasHapus
  18. Barokallah mba terima kasih sudah mengingatkan, memang semuana bermula dari diri sendiri
    bahagia deh rasanya dapet oleh-oleh ilmu, mba lanjutkan lagi hahaha menunggu cerita lanjutan

    BalasHapus
  19. Seminar idamaan..
    Ingin sekali mengikuti seminar Ibu Okina.
    Baru baca bukunya yang mashaAllah, mesti perlahan mengunyahnya.

    BalasHapus
  20. Aku jadi pengen banget ikutan sesi parenting Bu Okina. kapan ada kesempatan ya? Saat ini masih merasa sering kepentok pentok menjalankan peran sebagai ibu. mmenunggu juga postingan berikutnya mbak, bikin kepo sangad.

    BalasHapus
  21. Kebayang sih 45 menit untuk menuju lokasi, belum lagi harus meninggalkan rumah yang ngga bisa kita tinggal dalam keadaan berantakan.. persiapan semua semunya untuk keluarga dan anak-anak.. belum menghadapi kendala di jalan raya ya mba.. aku seneng banget lihat semangatnya.. aku tunggu postingan selanjutnya ya..

    BalasHapus
  22. Waaahh aku jd pengen juga ikutan training sejenis. Kadang suka dilema menjalani peran sbg ortu atau milih peran dlm hal aktualisasi diri. Gmn cara menyeimbangkannya. Krn susah kyknya perempuan bisa raih keduanya :(
    Saya jd pengen baca buku pembicaranya mbak, ntr nyari ah tfs

    BalasHapus
  23. Waini, aku pun sering kayak begitu. Tapi seperti MakChie bilang sih, semua berawal dari diri sendiri dulu, baru deh ke luar. Aku ketamparnya pas ikut acara penerimaan diri dan memaafkan diri. Disentil kayak gitu. Jadinya sekarang, kalo apa pun, disiapin dari dalam diri dulu deh, baru ke luar. Semangaaat! :D

    BalasHapus
  24. Salut banget masih bisa ikutan training kaya gini,, dan benar sekali perubahan dari diri dulu yes baru orang lain. Btw ada ga sesi yraining gini di Jakarta?

    BalasHapus
  25. U rock, mbak! Menunggu untuk postingan selanjutnya. Pengen ikutan juga kalau ada infonya lagi euy :)

    BalasHapus
  26. Setuju nih. Semua berasal dari kita sendiri. Ibukku kalau sudah mulai "aneh", aku suruh me-time dulu biar bahagia dan bawaannya di rumah lebih santai

    BalasHapus
  27. MasyaAllah ilmunya banyak banget dan bagus mba.. pingin bisa ikut acara seperti ini juga, semoga suatu saat aku berjodoh dg acara keren begini :)

    BalasHapus
  28. Iya siiy bener jg ya..hrs selesai dgn diri sendiri dulu ya...jd tantangan emang nih..

    BalasHapus

Auto Post Signature