Training Enlightening Parenting (part2) - The Power of Briefing & Role Playing

15 Mei 2019

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Seharian bakal keluar dan beraktifitas sama anak-anak,

3 hari sebelum hari senin,

Bubun : Zaf, Ruby Bubun mau cerita dulu boleh, sekalian briefing dan kita main-main seperti role playing? (meminta waktu ketika saya rasa anak-anak lowong waktunya)

(kata-kata briefing dan role playing ini semenjak saya ikut training EP adalah kata-kata yang buat mereka tertarik untuk mendengar saya, hahaha, seperti main game yang seru, bercerita setelah itu bermain peran, dan anak-anak enjoy banget bahkan zaf  membuat sendiri alurnya)

zaf : Boleh, Apa bun? (Zaf mendekat, refleks rubypun juga mendekat dengan pertanyaan yang sama)

Bubun : Senin ini, Jadwal bubun periksa adek ke RS Kendangsari, masih ingat briefing kita jika periksa ke kendangsari?

Zaf : Masih bun (berteriak semangat bersama ruby)

Bubun : Cobak, bubun mau dengar dulu boleh?


Zaf pun bercerita (Bangun shubuh, langsung mandi, pakai baju, sarapan, setelah sarapan sambil menunggu bubun, bereskan mainan yang dilantai, duduk tenang di gocar, gandeng tangen ruby masuk ke RS, Duduk tenang sambil menunggu nama 'LUBNAH' dipanggil, masuk ke ruangan dokter, menemukan 2 kursi, 1 kursi untuk zaf, 1nya kursi buat ruby, duduk tenang tapi sekali-sekali bisa lihat kondisi adek yang diperiksa oleh dokter, setelah periksa, bubun ambil obat, zaf dan ruby duduk tenang, atau ke playground, selesei ketika bubun sudah memanggil saya, tapi kalau banyak orang, kembali menunggu obat bersama ayah dan bubun. setelah itu pulang diantar sama ayah)

Bubun : Wahh terima kasih zaf masih ingat briefing kita ke kendangsari, tapi ada yang berbeda kali ini, sebelum kita menunggu dokter, temani bubun ke Lab yah, lokasinya ada disamping playground. (sayapun bercerita terus sampai posisi kita duduk di depan ruang tunggu dokter)

Ada yang mau ditanyakan?

Zaf : Gak ada bun, kita mulai role playing yuk bund (katanya dengan semangat)

Bubun : Nanti kalau ada kejadian yang diluar briefing ini, kita jadikan bahan main-main role playing yah, kalau pas hari H ada yang berbeda dalam breafing ini tanya bubun atau ayah dengan suara yang tenang dengan kata-kata 'kok lain bun, kok lain ayah' bubun akan menjelaskan juga dengan tenang.

Kitapun mulai role playing

(Zaf dan ruby pura-pura bangun tidur hehehe, langsung ke kamar mandi, seolah-olah mandi dan sikat gigi, dan seterusnya sampai kita bertiga seolah-olah masuk pintu kamar sebagai pintu RS Kendangsari, seterusnya sampai pulang bersama ayah)

Bubun : Zaf, Ruby ada tambahan lagi sayang, setelah dari kendangsari, sorenya ada buka puasa di hotel acara kantor ayah (sayapun memperlihatkan undangannya) jadi setelah zaf dari kendangsari, kita makan siang langsung dirumah, lalu tidur siang, alarm jam zaf berbunyi dijam 3 langsung mandi, dan kita siap ke hotel, lalu..... (sayapun menceritakan apa yang akan dia temui disana, sikap dia seharusnya seperti apa, kita melakukan apa, sampai jam berapa, dan semua alternatif-alternatif yang akan kami temukan diacara tersebut)

(lalu kembali kita role playing sampai keluar dari pintu hotel)

Sayapun sepakat sambil bersalaman dan berpelukan sama anak-anak, gak terasa ini sejam, mungkin saya lakukan 2 kali, tapi ini kami nikmati banget, seseruan sama anak-anak sangat menyenangkan sekali.

Dan apa yang terjadi, hanya bermodal cerita dan meluangkan waktu sejam selama 2 hari, pada hari tersebut berjalan sangat lancar, sesuai semua dengan kesepakatan. Alhamdulillah.

Terima kasih untuk, saya sendiri, zaf, ruby dan Suami.
-------------------

Jujur berasa disiram air sejuk ketika seminggu lalu suami apresiasi saya dengan perubahan positif tentang anak kami ke 2 yaitu Ruby, suami berkata : 'Ruby sekarang terlihat tenang yah sayang, Lebih Asyik' sayapun refleks membanggakan diri hehehe, dan terima kasih atas apresiasinya suami kepada saya dan terlebih buat diri saya sendiri. 

Yang sebenarnya bukan perubahan ruby, tapi saya, Bubunnya yang berubah atas respon untuk dirinya sendiri, Insyaa Allah menjadi lebih baik lagi buat anak-anak, suami dan sekelilingnya. Biarpun masih tertatih tapi Insyaa Allah melejit apalagi sudah diapresiasi positif sama suami, duhhhh, daku seperti berbunga-bunga kembali, kembali untuk merasakan jatuh cinta untuk senantiasa memperbaiki diri.

Insyaa Allah Amanah ini, akan menjadi 3 dan harus dikencangkan perubahannya, Bismillah.

--------------------
Mengetahui Training EP ini udah lama banget 2016, semenjak saya membeli bukunya tapi masih di kota batam, materi dan kondisi tidak memungkinkan jika saya demi training EP saya terbang ke Jakarta (saat itu memang lokasi terdekat dari batam) sayapun tidak mengutarakan niat itu ke suami, tau diri pasti susah mengaturnya. Tapi alhamdulillah 2018 kami pindah ke Surabaya, baru beberapa bulan dan saya tau informasi tentang pelatihan EP ini, tanpa ragu saya minta ijin ke suami dan dengan terkejutnya diapun langsung mengiyakan, padahal saya tau biayanya tak murah, didukung waktu training yang memang hanya 2 hari tapi full dari pagi sampai malam. Tapi respon suami mendukung dengan penuh dan dari jauh-jauh hari beliau mengosongkan waktunya demi menemani anak-anak.

Baca juga cerita pertama saya tentang EP :

Melihat judul tulisan ini dan cerita pengantar saya diatas yaitu tentang briefing & Role Playing, jurus bahkan ilmu ini yang saya dapatkan di training EP yang paling nancep, sebenarnya saya sudah aplikasikan sebelum ikut training ini lewat informasi bacaan dari bukunya tapi betul memang jika kurang lengkap jika tidak mengikuti trainingnya, berjumpa langsung dengan Ibu Okina, mendengar, melihat mimik dan gesturnya yang sangat membuat ilmu ini makin nancep pokoknya :)) Barakallah Ibu, Bapak dan Tim.

Kekuatan dari briefing dan role playing sangat terasa sekali bagi saya khususnya dalam menghadapi diri sendiri, anak-anak bahkan suami, setiap kegiatan bersama mereka tak lupa briefing ini selalu saya andalkan, karena saya sudah tau positif yang saya dapatkan seperti apa. Bukan hanya mau kemana-mana, untuk kegiatan sehari-haripun demikian, termasuk untuk memasuki bulan puasa yang menjadi pelajaran pertama buat zafpun saya memakai cara ini, mulai dari bangun sahur sampai sholat tarwih, begitupun komunikasi dengan suami, partner kerja saya dalam membersamai anak-anak, saya tak perlu menyuruh-nyuruh dia lagi, atau sebaliknya, tapi cara saya berkomunikasi lewat briefingpun lebih nyaman, suami jadi lebih terlibat tanpa diminta. Dan kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan yang paling menyenangkan, zaf yang suka bercerita, ruby yang suka bermain peran, sayapun senang mendengar mereka, membuat suasana semakin akrab dan hangat, pernah malah seharian kami hanya berkegiatan di kamar tidur saja, bercerita tentang apapapun itu tanpa rasa bosan, gak kerasa udah siang yang waktunya tidur siang. Sebelum tidurpun yang biasanya baca buku tapi karena udah dibacakan tadi malah zaf membuat cerita dengan idenya sendiri. saya dan rubypun menjadi pendengar sekali-kali ikut nimbrung memberikan saran atau bahkan tertawa. Efek briefing ini sangat melekat dengan anak-anak, lebih mudah dan gampang menyampaikan perasaannya, pilihannya, ketidaknyamannya, biarpun memang cuman saya dan suami yang mereka bersikap seperti itu. Untuk ke orang lain belum, masih dingin. Tapi gak apa-apa, toh yang harusnya mereka nyaman bercerita kan memang sama kami orangtuanya.

Ada banyak, banyak banget malah, ilmu yang saya dapatkan selain briefing dan role playing ini, pengen suatu waktu Insya Allah setelah melahirkan mau bikin mind mapnya seperti mba fira, supaya lebih jelas perubahan yang saya dapatkan, lebih jelas caranya, alurnya, tidak membuang-buang waktu dan energi karena lebih jelas tertulis perencanaanya.
Di tulisan pertama saya mengatakan nulispun gak sempat saking merasa ruginya jika saya tak melihat pemaparan ibu okina dan tim, dan memang banyak banget ilmu yang kiranya dulu saya beranggapan sudah banyak mengetahui dan kulakukan buat anak-anak tapi kok gak ada perkembangan, begitu banyak kataku, tapi ternyata cuman 'debu' bagai segunung pasir yang saya ketahui dan saya lakukan, dasarnyapun saya gak tau, maka pondasi itu tak kuat, makan bangunanpun sering goyah bahkan jatuh kembali, untuk kembali bangkitpun kadang mencari pembenaran kesana-kemari. Tapi di training EP ini berkata lain dari apa yang saya pahami selama ini, menyadarkan bahwa semuanya tergantung dengan diri kita sendiri, mengolah diri kita sendiri, mengolah fitrah kita sendiri, mengolah pemikiran kita sendiri, bahkan semuanya berpulang pada kita sendiri, saya gak tau gimana cara membahasakan, tapi dengan kita mengetahui diri kita sendiri, membuat dia bahagia dan rileks tapi punya goal dengan berjuang biarpun sedikit tapi diapresiasi, kalau saya dengan mencatat setiap perubahan, itu bisa menjadi perubahan yang sangat maksimal. Contoh kecilnya saja ketika saya diapresiasi suami, perubahan setelah itu menjadi signifikan, dan saya baru sadar, ternyata dulu saya jarang mengapresiasi diri sendiri, membuat perubahan jadinya sebatas keinginan, tau caranya, tapi malas berubah, dan di EP baru tersadarkan bahwa berubah itu MENGUBAH.



Sekali lagi sangat bersyukur bisa ikut andil dalam mengikuti training yang penuh dengan makna ini, malah ketagihan ikut untuk edisi selanjutnya, Suamipun dengan perubahan saya, diapun juga kepengen untuk ikut. Hehehe. Sekarang yang saya harus perjuangkan adalah terus me-refresh ilmu, terus berjuang, terus mengubah, terus menyusun strategi-strategi dalam menghadapi diri ini dan sekitar, Apa yang saya sedang perjuangkan ini semoga gak sia-sia, Suami Ridho, Insyaa Allah Allahpun Ridho dengan saya untuk terus berjuang menjadi pribadi yang tau apa sebenarnya tujuan Allah menghadirkan saya dimuka bumi ini. 

Mungkin, cerita akan berlanjut tentang kisah saya dan anak-anak dengan mencoba ilmu-ilmu yang saya dapatkan di EP, Terima Kasih.
Post Comment
Posting Komentar

Auto Post Signature