Fototerapi Rumi Ketika Jumlah Bilirubin Meningkat

4 Juli 2019

Assalamualaikum...

Senin 20 Mei 2019, Persiapan pulang ke rumah.

Setiap pagi jadwal rutin rumi kala itu memang selalu berjemur di teras rumah sakit, tak disangka ternyata visit dr. dini pagi banget kami gak di kamar, tapi dr. dini nyusul keluar untuk memeriksakan rumi sebelum beranjak pulang hari ini.

Sayapun dengan spontan berkata ke dr dini,

'Dok, anak saya gak kuning yah?' 

Dokter dari pertama memang sangat serius menekan-nekan kulit yang berada di lutut dan telapak kaki rumi. dokterpun langsung berkata 

'Mba, anaknya sebelum pulang di tes lab dulu yah' 

Sayapun langsung mengiyakan, karena pasti tes lab ini untuk mengetahui kadar bilirubin rumi.

Jam 11 siang hasilnyapun keluar, dan dibolehkan pulang, saat itu kadar bilirubin rumi 11,28 padahal untuk diharuskan fototerapi diatas 12. Sebenarnya ini diambang banget, tapi kala itu saya yang belum paham, selftalk saya berucap 'ohh, belum sampai 12, masih aman, wajar masih bayi memang kadang kuning, tinggal jemur aja selalu'

Apalagi ketika para perawat menyarankan saya untuk selalu dijemur dan disusui tiap 2 jam sekali, lagi-lagi selftalk saya berkata 'Yaa Ialah memang normalnya gitu setiap pagi pasti rutinitasnya jemur  dan disusui'

Lagi-lagi spontan saya berkata ke perawat,

'Suster, yang menyebabkan paling utama naik bilirubin sang anak faktor apakah?

Penjelasan suster cukup rinci, dan ketika sampai suster berkata 'perbedaan golongan darah sang Ibu dan Anak'.

Tiba-tiba saya berucap lagi,

'Lah, saya demikian suster, Golongan darah saya berbeda dengan anak saya'

Nah, disini titik temu saya yang paling pertama tentang kenapa rumi harus di tes lab segala, ternyata penyebab bilirubin cepat meningkat kadarnya salah satunya perbedaan golongan darah ibu dan bayi yang disebut Inkompatibilitas ABO.

Karena saya masih awam soal ini, dapat sumber baru dari perawat aja, saya coba mencari-cari lewat googlingan, sayangnya selalu gak sempat baca sampai tuntas, perjuangan untuk memberikan ASI rumi ternyata butuh energi yang besar.

Rumi berasa mau tidur muluk, kalau gak dikelitikin kakinya, keteknya, ahh banyak deh usahanya, jika semua dilakukan baru bangun. Kadang sayapun kelupaan saking asyiknya tidur atau bermain sama zaf dan ruby serta kerjaan domestik lainnya.

Dua hari selanjutnya tiba jadwal kontrol rumi tentang kuningnya belum masuk jadwal kontrol imunisasi sebenarnya. Sampai sini seperti aman-aman saja apalagi ketika cek BB dari rumi alhamdulillah naik.

Tapi ketika giliran nama kami untuk masuk ke ruangan, dr. dini langsung memperhatikan keseluruhan badan rumi dan berkata,

'Mba, harus dicek lab lagi yah, soalnya kuningnya udah sampai lutut'

'Mbanya tunggu aja hasilnya langsung'

Dan.... masih banyak penjelasan beliau yang membuat saya bertanya-tanya dan makin gelisah.

Karena hasil tesnya menunggu 2 jam lagi kitapun pulang kerumah, sore pas 2 jam kemudian suami dan zaf ke rumah sakit untuk ambil hasilnya, saya, rumi dan ruby dirumah aja soalnya kasian rumi kalau dibawa jalan lagi sekalian mempersiapkan buka puasa buat suami.

Belum 10 menit suami keluar, ada telepon dari rumah sakit yang berkata,

'Bund, Anak Ar-Rayyan harus segera difototerapi 1x24 jam sekarang yah, soalnya bilirubinnya 17,98'

Hasil Lab Sebelum difototerapi
Lemes langsung aku, kepikiran diangka itu tinggi banget, padahal diangka 12 aja sudah fototerapi, tanpa pikir panjang aku kontak suami untuk pulang aja jemput kami.

Saya kala itu mau siap-siap buat masak air panas untuk memandikan rumi, jadinya batal, menyiapkan apa yang bisa disiapkan, pas suami datang sayapun dan anak-anak langsung naik mobil.

Di mobil aku sudah gak perhatikan siapa lagi, fokus hanya memberikan rumi ASI yang masih butuh perjuangan soalnya rumi masih aja tidur, sekali-kali bangun tapi bentar banget nenennya.

Alhamdulillah pelayanan rumah sakit yang cepat, selesai buka puasa, rumi langsung ditangani, pikirku kala itu saya bisa menemani rumi di ruangan bayi minimal diluar ruangan, biar jika jadwal menyusui saya bisa masuk, ternyata saya salah.

Saya harus menyiapkan ASI Perah untuk diberikan ke perawat ruang bayi. Dan untuk mendapatkan ASI perah saya disuruh pulang, istirahat yang cukup, makan yang bergisi, dan tiap 2 jam memerah ASI. Dan paling ditekankan perawat kepada saya untuk 'tidak stress'

'DISURUH PULANG???'

Berarti saya meninggalkan rumi tidak bersama saya semalaman itu yang membuat rasanya sedih dan nangis. Karena saya belum memiliki asi perah, saya disarankan memerah untuk seperlunya saja di ruang bayi yang memang ada fasilitasnya. Saya entah nangis saat itu, tapi tetiba perawat datang ke saya untuk memberikan support dan itu membuat air mata ini makin jatuh.

Rasanya gak mau meninggalkan rumah sakit malam ini, ditambah ketika suami berkata 'cinta saya ketinggalan 1 orang di sini' tambah nangislah, apalagi saya yang seorang ibu 9 bulan bersama-sama dan hampir seminggu saya memberikan ASI dan tidur bersama-sama, tiba-tiba malam ini gak bersama itu rasanya pengen nangis tumpah, tapi malam itu saya tahan, karena yang sedih bukan saya, suami pastinya juga, dan ada anak-anak.

Sampai di rumah saya mempersiapkan makan malam karena zaf dan ruby dan tentunya kita semua belum makan malam, awalnya pengen berbuka puasa diluar malah batal, perasaan malam ini gak mood untuk jalan keluar, tiba-tiba suami peluk saya dari belakang dan memberikan saya kata-kata motivasi dan cinta, tangisan yang saya tahan dari tadi, tumpah akhirnyaaaaaaaa, sayapun balik dan memeluk dia. Ahhhh, dak ada kata-kata saya lontarkan hanya menangis.

Setelah makan dan beres-beres anak-anakpun langsung tidur, saya disuruh tidur sama suami biar bisa perah tengah malamnya, tapi tiba-tiba hp berdering dari rumah sakit katanya asip rumi habis saya harus diminta untuk kirim asip ke rumah sakit. Dengan gerak cepat suami mencucikan alat perah saya yang tadi berusaha untuk tidur malah langsung ambil posisi untuk perah, alhamdulillah sejam bisa dapat banyak dan langsung gojekin ke rumah sakit.

Sayapun lagi disuruh suami untuk tidur kembali. Subuh bangun dan perah kembali dan kirim.

Begitu terus seharian saya kerja, memperbaiki mood, makan sayur banyak, sambil mendoakan keadaan ini bisa pulih kembali.

Karena rumi difototerapi 1x24 jam dan berdoa gak bakal berlanjut, sorenya sebelum berbuka puasa saya, suami dan anak-anak mengantar sendiri asip ke ruang bayi RS. Kendangsari, ternyata saya bisa nengokin rumi dan memberikan asi langsung karena kebetulan ruminya bangunn, duhhhh senangnya tau aja klo bubun kangennnnnn bangetttttt...

Sumpah ini meperti mendatangi sang cinta yang deg-degan banget pas ketemu gak berhenti kupeluk dan kuciumi, memberikan asi dan langsung disambut dengan semangat oleh rumi, dan gara-gara itu saya yakin Insyaa Allah bisa pulang malam ini.

Karena masih sisa sejam sebelum dites lab lagi, kamipun makan malam diluar sambil menunggu hasil lab dari rumah sakit, dan ketika sudah di rumah sakit langsung dikabari rumi boleh pulang malam ini karena kadar bilirubinnya udah turun, 11,10. Sebenarnya masih diambang sih, tapi star syukur saya kadarnya turun banyak dari angka 17 dan dibawah angak 12 plus bisa pulang bersama kami.


Malam itu, setiap sejam saya membangunkan rumi untuk menyusui, begitu terus sampai sebulan karena kuning masih terlihat di area mata, karna dokter dini berkata kalau diarea mata memang sebulan baru hilang. Alhamdulillah, ketika jadwal Imunisasi yang kala itu rumi pas sebulan, kuningnya sudah tak terlihat, dan berat badan rumi Masyaa Allah meningkat pesat. Alhamdulillah.

Kesimpulan dari ini semua :
  • Penting bagi orangtua untuk memeriksakan tipe golongan darah dan rhesusnya sebelum memiliki anak, sehingga bisa diketahui apakah nantinya memiliki kemungkinan untuk terjadinya ketidakcocokan atau tidak.
  • Jangan sepelekan jika tubuh bayi kita kuning, apalagi jika bayi kita baru berusia 2 hari sudah kuning.
  • Jika tanda-tanda seperti susah dibangunkan untuk menyusui, atau bisa jadi demam, harus waspada dengan tingkat bilirubin yang meningkat. Karena mengetahui tingkat bilirubin meningkat jalan satu-satunya hanya dites lab.
  • Penanganan jika kadar bilirubin sudah mencapai angka 12 segera fototerapi secepatnya, karena itu salah satu cara untuk memecah bilirubin agar kadarnya normal sebelum terjadi transfusi darah.
  • Jangan panik, selalu konsultasikan sama perawat dan dokter spesialis anak.
Alhamdulillah, Ini menjadi pengalaman saya yang pertama, yang dulunya saya kira sepele ternyata bikin air mata jatuh juga hehehe, yah gimana gak panik, baru selesei lahiran, bahagia pastinya, pulang ke rumah, kembali beraktifitas sama anak-anak, dan ternyata 2 hari setelahnya perasaan ini di uji, Alhamdulillah semua terlewat,

Terima kasih untuk seluruh my support system.

2 komentar on "Fototerapi Rumi Ketika Jumlah Bilirubin Meningkat"
  1. semangat mbak Lubnah,,,, Haru membaca ceritanya semoga dek Rumi sehat selalu ya...

    BalasHapus

Auto Post Signature